Kesaksian Warga Terhadap Praktek Rentenir

Kundur News – Tanjungbatu – Aksi APMK GEMPAR (Aliansi Peduli Masyarakat Kundur Gerakan Menolak Praktek Rentenir) dalam penolakan praktek rentenir di Kundur mendapat sambutan positif dari masyarakat. Karena didalam hitungan jam saja, mereka berhasil mengumpulkan ribuan dukungan.

BACA: Dukungan Penolakan Rentenir Terus Bergulir

Hasil pantauan Kundur News didalam beberapa jam kemarin, beragam alasan yang telah mereka utarakan sehingga aksi penolakan praktek rentenir, bagi mereka adalah suatu berita gembira yang bakal mereka deklarasikan. Walau belum tau apa keputusannya, namun paling tidak mereka sudah saling berbagi, berbagi rasa, pengalaman, dan paling utama dapat menjalin silaturahmi antar sesama anggota ormas, didalam satu himpunan, yakni Aliansi Peduli Masyarakat Kundur, (APMK).

Ada yang pro, namun ada juga yang kontra dan itu adalah hal yang wajar. Contohnya saja seorang ibu-ibu asal Batu Putih Tanjungbatu, Ibu Asih, mereka malah sangat mendukung kehadiran rentenir di Tanjung batu. Menurutnya, dengan adanya rentenir mereka jadi dapat pinjaman lunak untuk modal berjualan kue di Ramadhan ini. Selain cukup memberikan copy KTP, dana langsung cair dalam hitungan menit.

“Adanya rentenir, bagi kami sangat membantu, ni saya baru ambil dagangan kue, modalnya dari mereka”. Lagian kalau mau pinjam sebentar aja langsung cair, tidak berbelit-belit” Kata Ibu separuh baya tersebut.

Beda dengan segerombolan pemuda warga asal Sawang Kundur Barat. Dalam pengakuannya ternyata mereka pernah mengalami hal yang paling serius. Sehingganya kesempatan penolakan rentenir  memang sesuatu yang mereka nanti-nantikan. Kebencian itu timbul setelah salah seorang oknum rentenir melakukan hal yang tidak senonoh terhadap warganya dengan cara memegang-megang organ sensitif  seorang gadis di Kundur Barat.

“Permasalahan tersebut, hingga kami laporkan ke Polsek Kundur Utara Barat, tapi sayangnya, aparat kepolisian pada saat itu tidak dapat untuk menindak, karena menurutnya tidak cukup bukti untuk menindak oknum rentenir yang tinggal di KM 7 itu”. Ujar salah seorang dalam rombongan convoy tersebut.

Dalam kesaksian memang lebih banyak mendukung menolak dari pada yang pro ke rentenir. Belum lagi pendapat para ulama, yang mereka malah menyebutkan hukum subahat didalam uang Riba. Dan lain sebagainya.

Sampai saat ini awak media kesulitan untuk mencari para Rentenir yang dimaksud. Tidak ada alamat yang pasti yang dapat di tuju, dan tidak ada nomor kontak yang dapat di hubungi, agar dapat dikonfirmasi.*