Para jemaah sholat idul fitri 1440 H di lapangan bola Gelora Tanjungbatu
Para jemaah sholat idul fitri 1440 H di lapangan bola Gelora Tanjungbatu

Tanjungbatu – Mantan Bupati Bintan, H.Ansar Ahmad menyampaikan khutbah pada salat Idul Fitri yang dipusatkan di Lapangan Bola Gelora Tanjung Batu Kota Kecamatan Kundur, Rabu (5/6/2019) pagi.

Dari pantauan kundurnews.co.id Warga mulai berduyun-duyun datang dan menempati shaf demi shaf yang sudah disediakan panitia maupun membentuk shaf tersediri di lapangan tersebut sekira pukul 06.00 WIB.

Salat Idul Fitri itu bertindak selaku imam ialah, Imam besar Masjid Besar Nurussalam, Abdul Rozak Nasution, sedangkan bertindak selaku Khatib ialah, mantan Bupati Bintan, H.Ansar Ahmad.

BACA :  Menjelang Lebaran, Aparat Polsek Kundur Sibuk Atur Kepadatan

Turut hadir pula Camat Kundur Ery Novaljadinata serta Jajaran Forum Koordinasi Pimpinan Kecamatan Kecamatan Kundur saat salat Idul Fitri di lapangan Bola Gelora Tanjung Batu Kota pagi itu.

Dalam khotbahnya, matan Bupati Bintan, H.Anasar Ahmad, menyampaikan Idul Fitri merupakan waktu tepat bagi kita untuk memberikan perhatian lebih dengan mengunjungi dan bersimpuh di depan mereka, meminta maaf atas segala kesalahan yang telah kita buat selama ini kepada mereka.

Sholat Idul Fitri 1440 H, di lapangan bola Gelora Tanjungbatu
Sholat Idul Fitri 1440 H, di lapangan bola Gelora Tanjungbatu

“Inilah saat penting bagi kita untuk berbuat baik kepada orang tua kita. Inilah ladang amal bagi kita selaku anak yang berbakti kepada orang tua. Jika kita dengan ikhlas peduli, memberi kasih sayang dan membantu meringankan beban hidupnya, yakinlah, surga balasannya. Jasa dan perjuangan mereka tidak akan bisa kita balas dan bayar lunas. Demi Allah, sebanyak apa pun yang pernah kita berikan, apa pun yang pernah kita serahkan kepada orang tua kita, tidak akan setimpal dengan perjuangan dan pengorbanan mereka membesarkan kita,” kata H. Anasar Ahmad.

BACA :  Pengamanan Arus Mudik di Pelabuhan Domestik Tanjungbatu

Ia juga mengajak untuk mengingat perjuangan orang tua ketika kita masih kecil tak bisa berbuat apa-apa. Dengan penuh cinta orang tua kita menggendong kita, mencium kita dan merawat kita sampai kita bisa seperti sekarang ini.

“Bagaimana sebaliknya ketika saat ini mereka tergeletak sakit sendirian di rumahnya? Sempatkah kita menengoknya? Berapa kali kita mengusap keningnya, menyuapinya dan menggantikan pakaiannya ketika ia terbaring sakit diatas tempat tidurnya? Seringkah kita memeluknya dengan penuh cinta sembari tersenyum sebagaimana ia lakukan saat kita kecil di pangkuannya?” tanyanya.*