Kundur News ‚Äď Denpasar – Masyarakat Bali diingatkan untuk mewaspadai gejala gangguan kejiwaan atau bipolar. Dimana Penderita bipolar cenderung¬†gembira dan sedih berlebihan. Demikian disampaikan¬†dr. Wayan Wiradana,Spkj dari¬†Perhimpunan Dokter Spesialis¬†Kedokteran¬†Jiwa Indonesia (PDSKJI) Cabang Denpasar pada acara¬†Hari Bipolar Sedunia yang digelar di sela-sela pelaksanaan Podium Bali Bebas Bicara Apa Saja (PB3AS) di Renon-Denpasar, Minggu (2/4).

Wiradana menyampaikan bipolar adalah¬†gangguan mental yang menyerang kondisi psikis seseorang. Ditandai dengan perubahan suasana hati yang sangat ekstrim berupa depresi, karena itu istilah medis sebelumnya disebut dengan manic depressive. ‚ÄúPenderita gangguan kejiwaan bipolar biasanya akan gembira dan sedih berlebihan. Menangis tanpa sebab dan suatu ketika royal kebablasan pada orang lain,‚ÄĚ ujar¬†Wiradana.

BACA :  BPJS Kesehatan diharapkan Lebih Baik Dari Jaminan Kesehatan Lainnya

Menurut Wiradana, gangguan bipolar harus diwaspadai karena akan sangat mengganggu produktifitas seseorang dan juga lingkungan sekitar. masyarakat diharapkan tak segan berkonsultasi ke psikiater jika mengalami gangguan tersebut.

Sedangkan Gubernur Bali Made Mangku Pastika mengajak masyarakat menjaga kesehatan jiwa agar terhindar dari gangguan kejiwaan yang disebut bipolar. Menurut Pastika, badan kekar tak akan ada gunanya jika jiwa mengalami gangguan. “Sekecil apapun gangguan jiwa akan menjadi ancaman dan merusak kualitas hidup seseorang,” kata Pastika.

BACA :  Warga Bali Diminta Waspadai Kejahatan Pedofilia
sedih_dan_gembira_berlebihan_berpotensi_alami_gangguan_kejiwaan_2
Gubernur Bali Mangku Pastika

Pastika mengingatkan agar masyarakat senantiasa memelihara kesehatan jiwa dengan menghindari tekanan dan depresi. Pada kesempatan itu, Pastika menyampaikan apresiasi kepada para dokter spesialis jiwa yang telah mengabdikan diri bagi upaya mewujudkan kesehatan jiwa masyarakat.

Pastika berharap, masyarakat memanfaatkan momentum ini untuk berkonsultasi dan mengetahui lebih banyak tentang bipolar dan gangguan jiwa lainnya. “Tanya ke ahlinya, apa yang seharusnya kita lakukan agar kesehatan jiwa tetap terpelihara,” ucap Pastika.*

BACA :  Bali Alokasikan Dana Sebesar Rp. 115 M Untuk Iuran Kesehatan Warga Tidak Mampu