Tim udara untuk pencarian dan evakuasi Warga Negara Indonesia di Nepal mulai bergerak hari ini, Minggu (3/5). Dari pantauan merdeka.com, helikopter swasta yang disewa bergerak dari Bandara Tribhuvan, Ibu Kota Kathmandu, pukul 06.50 waktu setempat.

Helikopter itu diawaki pilot lokal dari perusahaan Sheer Airlines. Sementara tim pemerintah yang ikut terbang adalah Letkol (Pnb) Indan Gilang, Kapten Santoso, Kapten Ario Suseno (dari TNI Angkatan Udara), Benjamin Setiabudi (Taruna Hiking Club), dan Sabda Thian (Kemlu).

Duta Besar Indonesia untuk Bangladesh dan Nepal, Iwan Wiryanata Atmadja turut mengantar tim di bandara. Letkol Indan sebelum terbang sempat menelepon keluarga tiga WNI itu. “Mohon doanya, hari ini kami mencari anak bapak di Langtang,” ujarnya.

Operasi udara ini terlambat 24 jam dari rencana semula. Biang masalahnya jumlah helikopter swasta yang bisa disewa amat terbatas. Selain antre, penggunaan setiap angkutan udara di Nepal sejak gempa 25 April, harus melalui izin Kementerian Dalam Negeri.

Tim dari TNI AU dan Kementerian Luar Negeri akhirnya kemarin mengirim nota diplomatik ke pemerintah Nepal. Helikopter swasta itu akan diarahkan ke area Langtang, lokasi terakhir tiga pendaki asal Bandung, Jawa Barat, yang sampai sekarang belum bisa dihubungi.

Diperkirakan Kadek Andana (26), Alma Parahita (31), dan Jeroen Hehuwat (36) dari Taruna Hiking Club berada di antara tiga koordinat di Kyanjin Gompa, Dhunce, ataupegunungan taman nasional Langtang. Perjalanan udara dari Kathmandu ke tiga titik itu membutuhkan 1 jam. Pukul 10.00 waktu setempat, helikopter ini diperkirakan sudah tiba kembali ke Ibu Kota.

Kurangnya helikopter untuk evakuasi ini sudah dirasakan sejak lima hari terakhir. Pihak militer Nepal hanya memiliki 20 helikopter untuk kepentingan SAR. Sementara tambahan milik swasta tidak signifikan buat melayani kebutuhan banyak negara mencari warganya yang hilang di Pegunungan Himalaya maupun wilayah kena gempa lainnya.

 

 

http://www.merdeka.com/dunia/helikopter-cari-wni-mulai-sisir-nepal.html