Destination-Brand-untuk-Bali

Kundur New – Denpasar – Kementerian Pariwisata menyiapkan destination brand dalam upaya mendukung promosi pariwisata Bali. Penyiapan destination brand bagi pariwisata Bali merupakan bagian dari kebijakan pemerintah pusat terkait nation brand Indonesia di bidang pariwisata.

Hal ini disampaikan  Deputi Bidang Pengembangan Pemasaran Pariwisata Mancanegara Kementerian Pariwisata RI I Gde Pitana di ruang kerjanya, Kantor Gubernur Bali, Denpasar, Jumat (9/6).

Menurut Pitana, Bali menjadi salah satu daerah tujuan wisata yang dipersiapkan destination brand-nya bersama  10 daerah tujuan wisata lainnya di Indonesia. “Ketika melakukan studi destination branding, kita mengambil sepuluh destinasi,”kata Pitana.

Pitana menyampaikan dengan kebijakan ini ada family brand untuk destinasi pariwisata di Indonesia. Sedangkan khusus untuk pembuatan brand Bali mengacu pada lima kekuatan yang dimiliki, yakni budaya, ketuhanan, keindahan, keramahtamahan dan keharmonisan.

BACA :  Jokowi Serahkan 5.903 Sertifikat Tanah Kepada Masyarakat Bali

Gubernur Bali Made Mangku Pastika memberi apresiasi terhadap destination brand yang dibuat oleh Kementerian Pariwisata RI untuk Bali. Pastika bahkan mengusulkan agar destinasi di tingkat kabupaten/kota di Bali juga menyesuaikan agar sesuai dengan tagline yang dibuat oleh Kemenpar RI. “Saya kira bagus, supaya nyambung di tingkat nasional, provinsi dan kabupaten,” kata Pastika.Destination-Brand

Pastika menegaskan Bali memang sudah menjadi sebuah brand yang punya nilai tersendiri, tinggal bagaimana masyarakat Bali menjaga brand tersebut. Saran ini mendapat apresiasi dari Kementerian Pariwisata yang siap membantu mendesain brand di tingkat Kabupaten/Kota.

Turut hadir dalam audensi Kepala Dinas Pariwisata Provinsi Bali AA Gde Yuniartha Putra dan Kepala Biro Humas dan Protokol Setda Provinsi Bali I Dewa Gede Mahendra Putra. Kedatangan Prof. I Gde Pitana yang didampingi Staf Ahli Setmen Bidang Komunikasi dan Informasi I Gusti Ngurah Putra dan Kabid Media Ruang Mancanegara Elisabet Hutagaol.*

BACA :  Masyarakat Harus Konsisten Konsumsi Buah Lokal