Presiden-AS-Donald-Trump-Akhirnya-Benar-Benar-Melancarkan-Serangan-Militer-Ke-Suriah

Koalisi militer Amerika Serikat, Inggris dan Prancis akhirnya benar-benar melancarkan serangan militer ke Suriah, yang menurut presiden AS Donald Trump ditujukan terhadap sasaran terkait kemampuan senjata kimia.

Serangan itu diumumkan Presiden AS Donald Trump melalui pidato yang disiarkan televisi.

“Sebuah operasi gabungan bersama angkatan bersenjata Prancis dan Inggris sedang berlangsung sekarang,” kata Presiden Trump dalam pidato itu.

Melalui twitter, Duta Besar Rusia di Amerika, Anatoly Antonov, menyatakan bahwa, “Lagi: kami diancam. Kami peringatkan bahwa tindakan semacam itu tidak akan dibiarkan begitu saja tanpa konsekuensi,” katanya.

“Seluruh tanggung jawab akan dipikul oleh Washington, London dan Paris,” tegasnya.

“Penghinaan terhadap Presiden Rusia tak dapat dibenarkan dan tak dapat diterima. Amerika Serikat, pemilik persenjatan kimia terbesar di dunia, tak punya landasan moral untuk menuding negara lain,” tambah Antonov dalam cuitan itu.

Televisi Pemerintah Suriah menyatakan, sistem prtahanan rudal Suriah menembak jatuh sejumlah rudal AS. Sementara Menteri Pertahanan AS, James Matis mengatakan kepada wartawan bahwa sejauh ini tak ada laporan tentang kerugian di pihak AS.

Ia mengatakan, sejauh ini serangan mereka dilancarkan sebagai serangan ‘sekali itu saja,’ namun akan melihat perkembangannya.

Donald Trump mengatakan, serangan itu dilancarkan terhadap lokasi-lokasi senjata kimia Suriah, bersama dengan Inggris dan Prancis sebagai balasan terhadap serangan kimia di Douma pekan lalu, yang menurutnya dilakukan pemerintah Suriah.

Berbagai ledakan dilaporkan terjadi dekat ibukota Suriah, Damaskus.

Perdana Menteri Inggris Theresa May mengukuhkan keterlibatan Inggris. Dikatakannya “tidak ada alternatif praktis selain penggunaan kekuatan (militer)”.

Namun dia juga mengatakan serangan itu dilancarkan bukan dengan maksud melakukan “perubahan rezim”.

Presiden Trump mengatakan, serangan itu diarahkan “pada sasaran-sasaran yang terkait dengan kemampuan senjata kimia pemerintah Suriah.”

Presiden AS mengatakan, tujuan serangan itu adalah “untuk membangun pencegahan yang kuat terhadap produksi, penyebaran dan penggunaan senjata kimia” pemerintah Suriah.

Dugaan serangan kimia di Douma yang menurutnya dilancarkan pasukan presiden Bashar al Assad, ” bukan tindakan yang dilakukan seorang lelaki, melainkan kejahatan yang dilakukan oleh monster,” katanya.

Suriah membantah tuduhan melakukan serangan kimia. Dan sekutu mereka, Rusia, memperingatkan bahwa serangan militer Barat akan berisiko meletuskan perang.

Seorang pejabat AS mengatakan kepada kantor berita Reuters, bahwa rudal-rudal jelajah Tomahawk digunakan dalam serangan itu.

Reuters juga mengutip seorang saksi mata di Damaskus yang mengatakan bahwa, “setidaknya terdengar enam ledakan keras” di ibukota Suriah itu.

Syrian Observatory for Human Rights, sebuah lembaga pemantau HAM Suriah yang bermarkas di Inggris mengatakan, serangan-serangan itu menghantam Fasilitas Riset Ilmiah Suriah dan sejumlah fasiitas lain di Damaskus.

Trump juga secara khusus menunjuk Rusia dan Iran, dua negara sekutu Suriah.

“Rusia harus memutuskan sendiri apakah akan terus menempuh jalan gelap itu atau bergabung dengan negaraa-negara yang beradab sebagai kekuatan untuk stabiitas dan perdamaian. Semoga suatu waktu kita akan berjalan seiring bersama Rusia, dan bahkan mungkin Iran, tetapi mungkin tidak.” Kata Donald Trump.

“Negara macam apa yang ingin dikaitkan dengan pembunuhan masal terhadap orang-orang -lelaki, perempuan, anak-anak, taka bersalah?”

“Negara-negara di dunia ini bisa dinilai dari sahabat yang mereka pilih. Tak ada negara yang bisa berhasil dalam jangka panjang, dengan mempromosikan negara yang jahat, tiran yang brutal, dan diktator pembunuh,” kata Trump.

Ia menyatakan, serangan-serangan rudal ini akan terus berlangsung sepanjang Suriah masih memiiki kemampuan serangan kimia.

“Kami siap untuk melanjutkan (serangan) ini sampai rezim Suriah berhenti menggunakan zat-zat kimia terlarang,” kata Trump.*

 

(BBC)