Inhil,- Yayasan pendidikan Al Husniyah Kecamatan Reteh, Kabupaten Indragiri Hilir (Inhil) direncanakan akan menggelar dzikir akbar.

 

Selain dzikir, berbagai kegiatan dalam rangka mengenang Perintis Alhusniyah Abba KH Husain Hap ke 24 tahun, Milad ke 20 tahun Yayasan Alhusniyah dan Hari Pahlawan RI ke 78 diagendakan pada Rabu 8 November hingga Sabtu 11 November 2023.

 

Salah satu pengurus Yayasan Alhusniyah Reteh, Hj. Suaidah Husain mengimbau kepada para alumni Yayasan Alhusniyah Reteh untuk hadir pada kegiatan tersebut.

 

“Alhamdulillah Yayasan Alhusniyah telah 20 tahun berdiri, dan telah mengorbitkan alumni yang mampu menjadi manusia yang bersaing di berbagai bidang. Maka kami imbau mereka untuk hadir sejenak pada acara dzikir akbar nantinya, baik yang dekat ataupun yang jauh,” imbaunya.

 

Berbagai kegiatan akan dilaksanakan selama empat hari di Kampus 1 dan Kampus 3 Yayasan Alhusniyah.

 

“Hari pertama dibuka dengan bazar dan jalan santai, dilanjutkan dengan dzikir akbar di hari kedua, upacara Hari Pahlawan, pentas seni dan Pawai Akbar sebagai penutup,” sebut Suaidah Husain.

 

Disadur dari Jaringansantri.com, perintis Yayasan Alhusniyah, KH. Husain Hap lahir bertepatan dengan peristiwa Sumpah Pemuda, yaitu pada tanggal 28 Oktober 1928 M/ 14 Jumadil Awal 1347 H. Beliau merupakan anak dari pasangan H. Daeng Palawa dan Hj. Daeng Tamaning. Keluarga ini berasal dari Bone Sulawesi Selatan yang berhijrah ke Pulau Kijang, Reteh.

 

Ketika mengandung KH. Husain Hap, ibunya Hj. Daeng Tamaning suatu malam pernah bermimpi memangku rembulan dengan kedua tangannya. Tampaknya, salah satu takwil dari mimpi itu adalah anak yang dikandungnya menjadi seorang tokoh pendidik dan ulama yang menyinari umat.

 

Sekitar tahun 1947, KH. Husain Hap berangkat menunaikan ibadah haji dan menuntut ilmu agama di Mekah. Ia belajar di Madrasah Dar al-Ulum al-Diniyah Mekah sebuah madrasah yang pernah dipimpin oleh Sayyid Muhsin Al-Musawa dan Syekh Yasin al-Fadani. Madrasah ini didirikan pada tahun 1934, setelah terjadi konflik internal di Madrasah Shaulatiyah.

 

Menurut tulisan Ali M. Hassan Palawa, KH. Husain Hap belajar di Mekah tahun 1947/8-1954, artinya sekitar 7 tahunan. Sedangkan, menurut UU Hamidy, beliau di Mekah selama 10 tahun dan merupakan seorang yang alim di bidang hadits.

 

Setelah cukup bekal ilmu pengetahuan agama, KH. Husain Hap kembali ke Pulau Kijang Reteh sekitar tahun 1954. Setelah menetap di Pulau Kijang, KH. Husain Hap membuka pengajian di sebelah rumahnya yang diberi nama Al-Husniyah. Ia juga aktif mengisi pengajian antara shalat maghrib menjelang shalat isya di beberapa masjid dan mushala di Pulau Kijang.

 

Pada kesempatan lain, KH. Husain Hap kerap pula diminta memberikan tausiyah dan nasehat pada kegiatan Hari Besar Islam, misalnya peringatan Maulid dan Isra’ dan Mi’raj, begitu pula acara syukuran Aqiqah, pesta pernikahan, maupun penyelenggaraan jenazah ketika ada warga yang meninggal dunia. Tempat yang beliau hadiri itu tidak hanya terbatas di Pulau Kijang saja, melainkan masuk ke pelosok-pelosok desa dan parit, terutama di daerah kecamatan Reteh.

 

Secara formal, ia pernah tercatat menjadi pengajar di Madrasah Nurul Iman Pulau Kijang. Kemudian madrasah ini direformasi oleh KH. Husain Hap menjadi Madrasah Darud Da’wah wal-Irsyad (DDI). Institusi ini terdiri atas Pendidikan setingkat Taman Kanak-kanak, Ibtidaiyah, Tsanawiyah, hingga Aliyah. Darud Da’wah wal-Irsyad (DDI) di Pulau Kijang mengalami kemajuan pesat, di tahun 1986 saja telah memiliki 12 ranting yang masing-masing terdiri atas Ibtidaiyah dan Tsanawiyah, sementara tingkat Aliyah hanya ada di DDI Pulau Kijang.

 

Institusi ini berafiliasi dengan Darud Da’wah wal-Irsyad (DDI), sebuah organisasi Ahli Sunnah wal Jamaah yang didirikan pada tahun 1947 dan ketuai oleh Anregurutta KH. Abd. Rahman Ambo Dalle di Sulawesi Selatan. Menurut Martin van Bruinnesen, di akhir 1980-an Darud Da’wah wal-Irsyad (DDI) memiliki seribu Madrasah di Sulawesi Selatan dan seratusan madrasah di daerah lain terutama di tempat komunitas Bugis menetap.

 

Selain DDI, KH. Husain Hap telah berjasa sebagai perintis pendirian Lembaga Pendidikan al-Husniyah sejak 1995. Kemudian pada tahun 2001 ahli waris mengembangkannya menjadi Al-Husniyah Islamic School yang merupakan institusi Pendidikan mulai dari TPQ, MDTA, PAUD, TK, SD, SMP, hingga SMA. Sekarang institusi ini berdiri megah di Jl. Kelapa Gading Pulau Kijang dan Jl. Lingkar Tembilahan.

 

KH. Husain Hap menikah dengan Hj. Khadijah dan dianugrahi 12 orang anak, lima orang laki-laki dan tujuh orang perempuan, di antaranya adalah: Abdul Hamid Husain, Sa’diah Husain, Jalaluddin Husain, Jamilah Husain, Kamaluddin Husain, Mardhiyah Husain, Fadlilah Husain, Hubaibah Husain, Suaidah Husain, Muzakkir Husain, Nu’aimah Husain dan Mubasyir Husain. Anak-anak keturunan beliau inilah menjadi generasi penerus yang memperjuangkan institusi Pendidikan Alhusniyah di Pulau Kijang dan Tembilahan.

 

KH. Husain Hap meninggal dunia setelah dirawat beberapa hari di Rumah Sakit Angkatan Darat Jambi pada hari Rabu tanggal 10 Nopember 1999 M/ 2 Sya’ban 1420 H. Dalam usia 72 tahun dan dikebumikan di kota Jambi.

 

DPRD Inhil pernah memberikan penghargaan Gemilang Award tahun 2023 kepada KH. Husain Hap (Tokoh Agama, Pendiri Yayasan Darud Da’wah wal Irsyad Pulau Kijang (DDI) Reteh) pada bidang Pendidikan yang diterima oleh salah satu anak beliau, Jalaluddin Husain.