akhir-dramatis-dari-pencarian-korban-pesawat-airasia-qz8501

 

 

Sejak dinyatakan hilang kontak pada 28 Desember 2014 lalu, proses pencarian dan evakuasi penumpang dan badan pesawat AirAsia QZ8501 terus dilakukan. Tetapi sejak kemarin, Selasa (3/3) Basarnas mengumumkan bahwa operasi pencarian resmi dihentikan.

Ketua Basarnas Marsekal Madya TNI FH Bambang Soelistyo memutuskan untuk menutup operasi pencarian korban pesawat nahas tersebut. Keputusan itu kata Bambang merupakan hasil kesepakatan bersama antara pihaknya dengan keluarga korban, setelah menggelar pertemuan tertutup di Gedung Mahameru Mapolda Jawa Timur.

“Ini adalah hasil kesepakatan kita dengan pihak keluarga. Dari hasil pertemuan kita hari ini, maka diputuskan mulai pukul 13.45 WIB, hari ini, operasi pencarian kita tutup,” kata Bambang, usai menggelar rapat tertutup, Selasa (3/3) kemarin.

Meski resmi ditutup siang kemarin, Bambang menjanjikan akan menambah tujuh hari atau selama satu minggu lagi untuk melakukan pencarian korban.

“Setelah jeda waktu istirahat ini, kita tetap akan menambah waktu untuk operasi pencarian selama tujuh hari atau satu minggu ke depan, yang akan kita mulai Senin depan (9/3). Jika dalam operasi tambahan itu hasilnya nihil, maka semua pasukan akan kita tarik dan operasi kita cukupkan,” papar dia.

Tiyas yang merupakan istri salah satu korban yang belum berhasil ditemukan sampai hari ini hanya bisa pasrah. Hal ini karena proses pencarian sudah memakan waktu dua bulan lebih.

“Waktunya sudah cukup panjang. Sudah dua bulan lebih. Saya istri dari salah satu penumpang yang belum ditemukan sampai hari ini. Saya di sini juga mewakili keluarga saya, kita, semua keluarga terima dengan kenyataan yang terjadi atas diri suami saya,” katanya pasrah usai menggelar pertemuan tertutup dengan Basarnas.

Pun begitu Dwi Yanto, ayah dari Bima Ali Wicaksana warga Surabaya, yang turut menjadi korban AirAsia. Dwi mengaku pasrah atas nasib anaknya itu.

“Kami sekeluarga sudah pasrah. Usaha Basarnas sudah maksimal. Selama dua bulan pencarian, mereka (Basarnas) sudah berupaya maksimal. Jika memang dihentikan, saya pasrah. Ya ucapkan terima kasih kepada Basarnas yang selama ini telah membantu. Dan Alhamdulillah, jika mereka masih mau dan memberi waktu tambahan tujuh hari untuk melakukan pencarian terakhir,” ucapnya dengan nada sedikit tertahan.

Selama dua bulan lebih operasi pencarian, Basarnas dan tim gabungan berhasil mengevakuasi 104 jenazah, baik berupa body maupun body parts. 104 Peti jenazah itu kemudian dikirim ke RS Bhayangkara Polda Jawa Timur untuk menjalani proses identifikasi.

Hasilnya 98 peti jenazah berhasil diidentifikasi. Enam sisanya, hingga hari ini belum berhasil dikenali dan masih tersimpan di cold storage (ruang pendingin).

Dari total yang teridentifikasi itu (98), rinciannya 91 dikenali masing-masing satu peti jenazah, satu non human atau diketahui sebagai potongan tubuh kera, tiga body parts teridentifikasi satu orang dan dua potongan tubuh juga teridentifikasi satu orang, sehingga total korban yang teridentifikasi ada 93 orang dan 1 non human.

“Sudah ada 94 (1 non human) yang teridentifikasi, enam sisanya masih kita upayakan dalam minggu-minggu ini,” ucap Budiyono.

Dengan begitu, dari 162 penumpang, termasuk tujuh awak pesawat yang belum berhasil ditemukan ada 63 orang. Dan 6 jenazah lainnya belum terindentifikasi dan masih tersimpan di cold storage.

Sementara itu, Ketua Tim Disaster Victim Identification (DVI) Polda Jawa Timur, Kombes Pol Budiyono berjanji akan segera menyelesaikan identifikasi terhadap enam peti jenazah korban AirAsia QZ8501 yang belum berhasil dikenali hingga saat ini.

“Paling tidak dalam minggu-minggu ini, kita sudah mendapat hasilnya. Kita akan terus berupaya untuk mendapat hasil yang tidak terbantahkan,” kata perwira yang juga menjabat Kabid Dokkes Rumah Sakit (RS) Bhayangkara Polda Jawa Timur ini.

Kalau hasilnya masih tetap tidak metching dengan data ante mortem terbaru yang kita dapat, lanjutnya, maka enam body (badan utuh), maupun body parts (potongan tubuh) ini dinyatakan bukan korban pesawat. “Tapi jika hasilnya cocok, itu kita nyatakan sebagai korban pesawat yang jatuh pada akhir Desember lalu (2014)” tegasnya.

Meski sudah dua bulan, namun ternyata baru dua penumpang yang sudah menerima asuransi secara penuh. Padahal, hingga saat ini, sudah ada 93 korban yang sudah berhasil diidentifikasi oleh Tim Disaster Victim Identification (DVI) Polda Jawa Timur.

Presiden Direktur AirAsia Indonesia, Sunu Widiyatmoko mengakui bahwa baru dua penumpang yang mendapat klaim asuransi. Sayangnya, Sunu enggan menyebut identitas dua keluarga korban AirAsia yang sudah menerima klaim asuransi tersebut.

“Ada dua penumpang yang sudah menerima. Mereka dari keluarga yang berbeda,” katanya.

Dia menjelaskan, klaim asuransi bagi korban akan dicairkan, apabila persyaratan administrasi sudah lengkap diserahkan oleh pihak keluarga korban.

“Untuk masalah pencairannya tidak ada kendala. Asalkan syarat administrasinya terpenuhi. Salah satunya surat keterangan ahli waris. Dan untuk bisa mendapat surat ini, diperlukan surat keterangan kematian,” lanjutnya.

Kata dia, bagi penumpang yang hingga saat ini belum ditemukan, diharapkan pihak Polda Jawa Timur bisa mengeluarkan surat kematian, untuk kemudian digunakan pihak keluarga mengurus surat keterangan ahli waris dari pengadilan negeri.

“Teknis pencairan asuransinya, ketika semua syarat administrasi sudah terpenuhi, pihak keluarga penumpang bisa langsung menelepon kami, agar klaimnya bisa segera cair. Total nominal yang diterima masing-masing penumpang, yaitu Rp 1,25 miliar,” papar dia.

Diakui Sunu, ada pihak keluarga penumpang yang memang mengalami kesulitan mendapatkan dokumen administrasi ini. Sebab, penumpang AirAsia QZ8501 yang mengalami peristiwa nahas pada 28 Desember 2014 itu, rata-rata satu keluarga, sehingga hanya mereka (korban) yang tahu keberadaan dokumen yang dibutuhkan.

“Karena rata-rata yang menjadi penumpang pesawat itu satu keluarga, jadi pihak keluarga terdekat atau pihak yang dinyatakan sebagai ahli waris tidak mengetahui. Dokumen itu hanya diketahui oleh si penumpang. Karenanya, peran pemerintah sangat dibutuhkan untuk dokumen-dokumen yang dibutuhkan itu,” tandas dia.

 

 

http://www.merdeka.com/peristiwa/akhir-dramatis-dari-pencarian-korban-pesawat-airasia-qz8501-splitnews-5.html