Negara Islam Irak dan Syam (ISIS) cabang Libya mengejutkan publik saat merilis video anyar menunjukkan pembantaian warga minoritas Kristen Koptik. Puluhan umat nasrani yang ditahan sejak Desember 2014 itu dipenggal para militan akhir pekan lalu.

Laporan intelijen menyatakan korban eksekusi tersebut sebanyak 21 orang. ISIS menghabisi tahanan Kristen itu di Kota Sirte, sebelah timur Libya seperti dilansir BBC, Senin (16/2).

Dalam video sepanjang lima menit tersebut, seluruh tahanan berbaju oranye dipaksa berjalan ke sebuah gurun. Masing-masing didampingi pria bertopeng yang menghunus pedang. Satu per satu dari mereka kemudian dipenggal.

“Mereka adalah umat gereja musuh agama kita di Mesir,” tulis ISIS dalam situsnya.

Sebagian besar tahanan yang dihabisi adalah warga negara Mesir. Para jihadis Libya menuding mereka antek gereja yang dikirim memata-matai gerakan khilafah atas perintah Mesir.

Sejak diktator Muammar Khadafi lengser pada 2011, kondisi Libya morat-marit. Pengaruh Mesir dan Amerika Serikat sangat dominan pada pemerintahan sekarang. Ribuan warga Mesir kini ke Libya untuk bekerja, termasuk para sandera ISIS yang kebetulan beragama Kristen Koptik.

Sementara itu, para militan bekas pejuang Al Qaidah sukses menguasai wilayah Benghazi. Tahun lalu, mereka berbaiat pada ISIS.

Pemerintah Libya maupun negara-negara sekitar di kawasan Afrika Utara mengecam tindakan cabang ISIS itu. Mesir yang warganya tewas dalam video itu, mengimbau setiap negara kini segera menghabisi organisasi khilafah hasil impor dari Timur Tengah itu sebelum membesar.

Besar kemungkinan Negeri Piramida melancarkan serangan udara ke wilayah-wilayah basis ISIS cabang Afrika.

“Kejadian ini sangat menyedihkan. Apalagi teror itu terjadi di Afrika, berdekatan dengan Mesir. Maka kami akan melawan setiap organisasi yang memiliki ideologi ekstrem,” kata Presiden Mesir Abdul Fattah al-Sisi.

Dewan ulama Universitas Al-Azhar turut mengecam tindakan para pendukung khilafah. “Pemenggalan tahanan adalah tindakan barbar,” tulis keterangan pers kampus di Kairo, Mesir itu.

 

(merdeka.com)