Kundurnews – Jakarta – Anggota Komisi VIII DPR RI Jalaluddin Rahmat menyatakan Islam tidak pernah bertentangan dengan keragaman, atau kebhinekaan, karena Islam itu sendiri selalu beragam.

“Kita bisa lihat di Makkah, di depan Kakbah, begitu beragamnya baik warna kulit, maupun cara ibadah yang dilakukan umat Muslim,” Jalaluddin di Jakarta, Senin (12/12/2016).

Menurut Kang Jalal, sapaan akrabnya, yang tidak beragam itu adalah islamisme, yakni, idiologi politik yang dikaitkan atau dinisbatkan kepada Islam. Islamisme ini, ucapnya, tidak pernah setuju dengan kebhinekaan.

“Islamisme inilah yang ingin ada penasfiran tunggal dalam ajaran islam. Ini yang bertentangan dengan kebhinekaan,” papar Ketua Dewan Syuro IJABI ini.

Kang Jalal menjelaskan Islam dan kebhinekaan di Indonesia selalu menerima perbedaan dan keragaman dengan sangat baik. Meski ia tak menampik masih ada saja kasus-kasus yang muncul terkait intoleransi yang dilakukan organisasi kemasyarakatan Islam tertentu.

“Saya masih yakin, keberagaman dan Islam di Indonesia tidak akan pernah rusak. Kalau ada kasus-kasus, itu insidentil saja. Saya kira umat Muslim Indonesia paling menghargai kebhinekaan,” tuturnya.

Sementara itu, Ketua Umum IJABI 2012-2016 Syamsuddin Baharuddi mengatakan Ikatan Jamaah Ahlulbait Indonesia (IJABI) melaksanakan Muktamar ke-5 pada 10-12 Desember 2016. Muktamar dihadiri para pengurus IJABI dari 26 provinsi seluruh Indonesia. Tercatat, sekitar 180 orang hadir di Asrama Haji Pondok Gede.

Syamsuddin menjelaskan sebagai organisasi keagamaan nasional, IJABI ingin meneguhkan komitmen kebangsaannya untuk tetap menjaga nilai-nilai Pancasila sebagai pijakan dasar membangun kehidupan berbangsa dan bernegara yang harmonis di tengah keragaman bangsa.

“IJABI memandang keragaman latar belakang seluruh anak bangsa sebagai kekayaan dan potensi yang sangat besar jika bisa dirajut dengan ikatan ideologis yang mengikat kebersamaan kita, yaitu Pancasila. Karena itu Muktamar V IJABI mengambil tema ‘Merajut Kebhinekaan dalam Bingkai Kebangsaan dan Keindonesiaan,” katanya.

Syamsuddin mengatakan, selain memilih Ketua Umum Tanfidziyah Pengurus Pusat IJABI 2016-2020, Muktamar juga akan mengukuhkan Lima Pilar IJABI sebagai prinsip dasar dan paradigma dawah IJABI.

“Lima Pilar yang menjadi ideologi IJABI mencerminkan kultur dan perilaku keberagamaan yang khas. Kelima pilar tersebut, yakni Islam rasional-spritual, prinsip Dahulukan Akhlak di Atas Fiqh (non-sektarianisme), pembelaan terhadap mustad’afin, Islam Pluralis dan Islam Madani,” paparnya.

Kelima pilar tersebut, katanya, memiliki akar yang kuat dalam Alquran dan Hadist. Kelima pilar ini, merupakan kesatuan tak terpisahkan yang mencerminkan watak dan perilaku keberagamaan yang berpusat pada upaya mewujudkan sistem yang adil dan fungsional dan mengabaikan gagasan formalisme agama dalam kekuasaan politik.

“Kelima pilar memposisikan gerakan IJABI sebagai sebuah gerakan yang jauh dari watak gerakan transnasional. Gerakan IJABI memiliki sistem nilai yang tidak bertentangan dengan Pancasila, malah menguatkannya. Sistem nilai itulah yang akan dikukuhkan melalui muktamar kali ini agar menjadi identitas para ijabiyyun se-Indonesia,” pungkas Syamsudin.*

(jat/inilah.com)