Kundur News.

Kantor berita Associated Press menggelar liputan investigatif mewawancarai banyak prajurit Negara Islam Irak dan Syam (ISIS) sebulan terakhir. Hasilnya, para militan kurang memahami ajaran agama Islam sebelum berangkat berperang ke Timur Tengah.

Mayoritas memang sejak lahir penganut Islam mengikuti keluarga. Namun pemahaman mereka tentang konsep jihad, khilafah, muamalah, syariat, serta hadis-hadis pendukung konsep negara Islam sangat minim untuk tidak disebut nol.

“Saya mulai merasa ada yang salah ketika kami berulang kami diberi tahu harus siap mati,” kata prajurit berusia 32 tahun asal Eropa. Dia bersedia diwawancarai asal identitasnya disamarkan.

Dia tertarik melihat video propaganda di Internet, namun niatnya membantu rakyat Suriah menggulingkan pemerintahan Presiden Basyar al-Assad. Belakangan dia baru tahu jika organisasi yang merekrutnya adalah ISIS.

“Sejak awal masuk, kami akan dikarantina untuk kemudian bertemu satu imam secara khusus. Sang imam rutin menjelaskan pada kami pentingnya menjadi martir mati demi agama,” ungkapnya.

Mohammed Ahmed dan Yusuf Sarwar, anggota ISIS asal Inggris, mengaku sebelum berangkat berperang demi Khalifah Abu Bakar al-Baghdadi, mereka hanya paham sedikit saja soal syariat Islam. Sarwar mengaku membeli buku ‘Islam for Dummies’ lewat Amazon agar punya gambaran seperti apa ajaran agama orang tua mereka itu.

Pengakuan serupa disampaikan Karim Mohammad Aggad, pemuda 23 tahun asal Kota Strasbourg, Prancis, yang hijrah ke Suriah pada 2013. Dia nekat meninggalkan keluarga bersama sang kakak setelah diajak berdialog oleh penceramah ISIS yang datang ke Prancis. Belakangan, mereka dilatih menjadi pasukan tempur ISIS.

Tujuh bulan pelatihan, mereka pulang ke Prancis. Kakak Aggad adalah salah satu teroris yang terlibat penyerangan Paris, menewaskan 130 orang. Di pengadilan, Aggad mengaku mereka bergabung dengan ISIS sebatas karena emosional.

“Kami dulu tergerak hijrah karena mendengar rakyat Suriah dibunuh oleh pemerintahnya. Semua itu tidak ada hubungannya dengan Islam,” kata Aggad di pengadilan.

AP mendapatkan bocoran dokumen dari markas pusat ISIS di Kota Mosul. Ternyata kelompok teroris ini menilai pengetahuan agama setiap calon anggotanya. Dari hasil ‘tes masuk’ itu, bahkan petinggi ISIS menilai 70 persen prajurit pengetahuan agamanya sangat minimal sekali. Sisa 24 persen mengetahui hadis dan bisa memahami Al Quran, serta cuma 5 persen yang benar-benar kader ideologis dan paham tentang agama.

Data ini sejalan dengan keberhasilan ISIS merekrut banyak anggota justru dari negara-negara yang mana muslim merupakan minoritas. Misalnya saja Prancis, Amerika Serikat, Belgia, serta Inggris. Kelompok ini berhasil menggaet setidaknya 20 ribu prajurit dari luar negeri hingga 2015, tapi setahun terakhir jumlahnya turun drastis. Kota-kota penting yang dulu dikuasai ISIS pelan-pelan direbut kembali oleh militer Irak maupun Suriah.