Waspada Jika Tiba-tiba Anak Tak Bersemangat Kesekolah

Kundur News  – Sebagai orang tua perlu kita ketahui jika saja anak kita yang biasa bersemangat berangkat kesekolah tapi tiba-tiba mendadak berubah,   malas berangkat ke sekolah, atau atau tidak seperti biasanya dengan menunjukan sikap dan perangainya.  Hal itu menjadi keharusan untuk dapat diteliti, dengan cara menanyakannya secara langsung, atau  bisa saja dengan cara diam-diam melihat kegiatannya di sekolahan atau dengan cara dikonsultasikan halnya ke pihak gurunya disekolah. Tetapi jika hal tersebut terus berlarut, atau dengan perangainya yang terus  berkepanjangan, bisa jadi Si Kecil sudah jadi korban bullying teman-temannya di sekolah.

Saat ini sering kita dengar anak menjadi korban bullying di sekolah, atau korban kekerasan psikis yang dilakukan secara berulang yang mengarah pada rasa ketakutan pada anak, berupa rasa terintimidasi, dan tertekan.

Bullying adalah bahasa saat ini, yaitu suatu sikap yang ingin menunjukkan power  kepada pihak lain yang dianggap lebih lemah, bisa saja dilakukan secara fisik ataupun nonfisik. Nonfisik sendiri bisa secara verbal, seperti mengolok-olok, menjuluki, menghina, mencela, memfitnah, memaki, atau mengancam.

Sedangkan tindakan nonverbal, misalnya mengajak teman-teman menjauhi salah satu teman. Bisa juga tindakan-tindakan seperti meneror, mengintimidasi, diskriminasi, memelototi, dan sebagainya. Sementara tindakan fisik misalnya mencubit, meninju, menendang, mendorong, atau memukul, atau kekerasan guru terhadap murid sebagai hukuman.

Apa kira-kira penyebab bullying bisa terjadi?

Penyebab timbulnya bullying, bisa jadi karena faktor orang tua di rumah yang keseringan memaki atau melakukan kekerasan fisik,  sehingga anak menjadi terbiasa disuguhi adegan kekerasan, sehingga ia akan menganggap tindakan kekerasan sebagai hal biasa dan sah-sah saja.

Bisa juga karena anak sangat dimanja di rumah, sehingga semua orang harus tunduk pada dia. Ketika di sekolah, ia menganggap semua orang (temannya) pun harus tunduk.

Faktor teman-teman juga bisa menjadi pemicu seorang anak menjadi pelaku atau korban bullying. Contohnya, anak hanya ikut-ikutan saja ketika teman dekatnya mengejek siswa lain. Jika tak ikut “meramaikan”, Sang Anak takut dimusuhi oleh teman dekatnya dan selanjutnya siklus bullying  pun berlanjut.

Faktor media yang banyak menayangkan tontonan kekerasan juga bisa menjadi pemicu anak berperilaku mem-bully . Ini biasanya terjadi pada anak-anak yang usianya masih dini. Bisa jadi, anak-anak itu menonton adegan kekerasan dari televisi. Tayangan-tayangan kekerasan secara langsung dan tak langsung memengaruhi persepsi anak.

Faktor lainnya karena kurang tegasnya orang tua dalam mengajari anak untuk berperilaku sopan. Jadi pastikan anak dibekali dengan perilaku santun yang dilakukan juga oleh orangtua. Mulailah dari mengajarkan mengucapkan “tolong” dan ‘terima kasih‘ ketika meminta bantuan orang lain, sehingga anak pun mengerti bahwa ia harus bisa menghargai orang lain jika ingin dihargai.

di Sekolah

Bagaimana jika Anda harus bertindak jika anak menjadi korban bully ? Sebenarnya, ini dapat segera diatasi jika anak mau bercerita kepada orang tua atau gurunya. Namun, yang kerap terjadi, anak korban bully  enggan bercerita. Bisa jadi, mereka diancam sehingga takut atau takut dimarahi orang tuanya.

Untuk menghindari risiko anak menjadi korban bully , orang tua sebaiknya sudah melakukan antisipasi sejak pemilihan sekolah. Misalnya, jangan memilih sekolah favorit, tetapi tidak terlalu menerapkan disiplin. Atau, sekolah favorit tetapi jumlah siswa per kelas banyak. Sebaiknya pilih sekolah dengan disiplin tegas untuk mencegah anak menjadi korban atau pelaku bully , sehingga guru akan langsung melakukan intervensi begitu melihat murid yang suka mengintimidasi. Jumlah siswa yang lebih sedikit juga akan membuat guru mudah melakukan pengawasan.

Setelah Anda mengetahui ciri-ciri anak yang menjadi korban bully, ada baiknya segera tanyakan kepada anak, apa yang terjadi. Tak perlu memaksa, karena anak juga butuh waktu untuk menceritakan apa yang dialaminya.

Setelah mengetahui setelah buah hati menjadi korban bullying temannya di sekolah? Yang pertama segera laporkan kepada gurunya, tanpa perlu menyalahkan guru. Ada baiknya jika Anda juga mengajak bicara orangtua pelaku bully, atau mengajak pelaku bully berbicara baik-baik, seolah-olah ia adalah teman dekat anak Anda, sehingga ia akan merasa segan melakukan lagi perilaku bully lainnya.

Perlindungan anak terhadap tindak kekerasan (bullying) pada siswa secara umum dilindungi oleh Undang-undang No. 23 Tahun 2003 tentang Perlindungan Anak, antara lain terdapat pada Pasal 13, Pasal 16 dan Pasal 54.*