Om Telolet Om (Foto suaramerdeka.com/Sugie Rusyono)
Om Telolet Om (Foto suaramerdeka.com/Sugie Rusyono)

Kundurnews – Terkait fenomena Om telolet om ini, pengamat budaya populer yang berasal dari Universitas Jenderal Soedirman, Purwokerto, Sulyana Dadan mengatakan fenomena pemburu klakson bus ini merupakan bagian dari hasil budaya populer dari perkembangan teknologi informasi. Fenomena ‘klakson’ yang bisa memancing ekspresi kebahagiaan ini populer karena ekses dari media sosial yang ada saat ini.

“Ini memang menjadi karakter budaya populer, cepat muncul tapi nantinya juga akan cepat menghilang. Kalau masih wajar maka biarkan saja, anak-anak menikmati kegembiaraan yang ada saat ini,” kata pengajar Jurusan Sosiologi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Unsoed Purwokerto yang dilansir laman suara merdeka.

Yang perlu diperhatikan dan disikapi adalah ketika fenomena budaya populer tersebut mulai mengarah ke situasi yang membahayakan atau negatif. Fenomena ‘pemburu suara klakson bus’ ini, menurut Dadan, tak berbeda jauh dengan fenomena pemburu monster pocket dalam permainan Pokemon Go beberapa waktu lalu. Perburuan monster dunia maya ini dianggap berbahaya karena sejumlah pemburunya sampai lupa ruang waktu hingga akhirnya berujung pada kecelakaan.

“Fenomena Om Telolet Om inipun cukup berbahaya jika nantinya berpotensi mengganggu kelancaran lalu lintas. Bayangkan jika di tengah ketersendatan dan kemacetan jalan nasional di Ajibarang-Pekuncen, banyak anak-anak pemburu klakson ini beraksi. Ini yang perlu diwaspadai oleh semua pihak termasuk orang tua dan pemerintah,” jelasnya.

Dengan munculnya berbagai fenomena budaya populer dadakan yang dilahirkan dari teknologi informasi dan komunikasi, maka masyarakat diharapkan dapat semakin mengerti dan memahami. Warga masyarakat diharapkan dapat semakin kritis menghadapi berbagai fenomena budaya populer yang ada saat ini.

“Jadi kalau fenomena Om Telolet Om ini dihubungkan dengan adanya pendangkalan akidah dan sebagainya, saya kira cukup berlebihan. Yang perlu difahami sebagai budaya populer, maka sifatnya timbul tenggelam. Cepat muncul populer, namun nantinya akan cepat pula menghilang dan tergantikan yang lainnya lagi,” ujarnya.*