Penulis: Fauziah, Guru SDN 010 Kundur
Penulis: Fauziah, Guru SDN 010 Kundur

Opini – Setelah hampir 2 semester tidak dilakukannya proses pembelajaran tatap muka di wilayah Kabupaten Karimun, tentu banyak sekali keterbatasan dalam penyampaian materi pelajaran. Lantas bagaimanakah proses pembelajaran pada anak berkebutuhan khusus?

Dikutip dari Wikipedia, Anak Berkebutuhan Khusus (ABK) adalah anak dengan karakteristik khusus yang berbeda dengan anak pada umumnya, tanpa selalu menunjukkan kepada ketidak mampuan mental, emosi dan fisik, yang termasuk dalam ABK antara lain: tunanetra, tunarungutunagrahitatunadaksatunalaraskesulitan belajar, gangguan prilaku, anak berbakat, anak dengan gangguan kesehatan, dan kesulitan bersosialisasi. Karena karakteristik dan hambatan yang dimilki, ABK memerlukan bentuk pelayanan pendidikan khusus yang disesuaikan dengan kemampuan dan potensi mereka, misalnya saja anak tuna netra membutuhkan buku dengan huruf Braille, dan sebagainya.

Dengan kondisi sekarang adakah cara yang efektif untuk proses belajar-mengajar tetap dilakukan? Disinilah dituntut peran aktif orang tua, karena dengan keterbatasan Guru untuk bertatap muka langsung dengan anak. Hal yang paling utama adalah pola fikir orang tua dan keluarga, anggapan bahwa ABK tidak bisa apa-apa adalah pola fikir yang salah, karena tidak sedikit orang-orang beprestasi dunia adalah orang yang berkebutuhan khusus, contohnya saja Stephen Hawking, satoshi tajiri penemu tokoh animasi Pokemon, dan dari Indonesia ada Oscar Yura Dompas, penyandang autisme asal Indonesia yang merain gelar sarjana dan menulis buku “autistic journey” dan “the life of the autistic kid who never gives up” pola fikir positif akan melahirkan aksi dan hasil yang positif juga, dalam hal ini cara paling mungkin untuk dilakukan adalah orang tua dan keluarga dapat berfokus kepada potensi anak dan bukan kepada disabilitasnya, misalnya untuk anak tunawicara yang punya bakat menggambar, proses pembelajaran dapat dimulai dengan gambar/lukisan yang bisa ia jadikan inspirasi, diselingi dengan ilmu pengetahuan umum lainnya. Jelaskan kepada anak, aktivitas apa yang akan anda lakukannya bersama anak, sambil menatap kedua mata anak sehingga anak mengerti ia dihargai dan buatlah lingkungan belajar yang aman untuk anak, sehingga anak merasa lebih aman dan nyaman.

Selanjutnya terapkan kebiasaan baik untuk anak, agar anak terbiasa dan mau mengikuti, bukankah anak usia dini adalah peniru terbaik? sehingga anak akan tumbuh besar dengan menjadi yang terbaik versi dirinya sendiri. Selain orang tua juga harus selalu optimis dengan kemampuan anak, agar tumbuh kembang anak semakin optimal.(*)

Ditulis Oleh: Fauziah | Guru SDN 010 Kundur.