cerita-perlawanan-bambang-widjojanto-saat-diborgol-polisi

 

 

Wakil Ketua KPK Bambang Widjojanto menjelaskan kronologi saat dia ditangkap oleh petugas Bareskrim Polri Jumat (23/1) pagi. Saat ditangkap, dia mengaku melawan karena diperlakukan tidak pantas, sebab tangannya akan diborgol ke belakang.

“Saya melawan ketika saya diperlakukan tidak sepantasnya dengan diborgol ke belakang. Akhirnya mereka borgol tangan saya ke depan,” kata Bambang kepada wartawan di rumahnya yang terletak di Kampung Bojong Lio, Cilodong, Depok, Sabtu (24/1).

Saat ditangkap, dia bersama dengan anak keduanya yang bernama Izzat. Saat di dalam mobil petugas Bareskrim dia pun berbicara kepada anaknya bahwa penangkapan yang dilakukan oleh Bareskrim saat itu, adalah proses penangkapan yang tidak sesuai dengan prosedur. Hal inilah yang membuat petugas Bareskrim merasa tersindir dan berniat memplester mulut Bambang.

Lebih lanjut, dia pun berujar, penangkapan yang dilakukan petugas Bareskrim seperti sedang menangkap seorang teroris. Karena, dia dikawal dengan petugas yang mengendarai empat voorijder sambil membawa senjata laras panjang.

“Saya merasa disergap persis seperti teroris. Ada 4 motor yang bawa laras panjang,” tuturnya.

Bahkan, saat di perjalanan menuju Bareskrim Mabes Polri, ia pun meminta izin berhenti di suatu tempat untuk buang air kecil. Namun, petugas dengan tegas menolak keinginannya itu.

Lalu, dia pun mengutarakan tentang ucapan petugas Bareskrim saat sudah tiba di Bareskrim Polri. Petugas yang mengetahui belum ada wartawan di sana, menyamakan wartawan dengan hewan yang suka mengganggu, yaitu nyamuk.

“Wah, belum ada nyamuk (wartawan)” kata Bambang menirukan ucapan petugas Bareskrim.

Terharu didukung Yunus Yosfiah

Bambang juga menyatakan terharu dengan banyaknya dukungan dan simpati dari berbagai kalangan atas penangkapan yang dilakukan oleh Bareskrim Polri. Salah satu dukungan datang dari Letjen TNI (Purn) Muhammad Yunus Yosfiah yang pernah menjadi menteri penerangan di era Presiden Gus Dur.

Saat di Bareskrim, Bambang mengaku dipeluk oleh Yunus. Padahal, keduanya tidak saling kenal akrab. “Pas di ruangan datang Adnan Pandu Praja, Todung Mulya Lubis dan Yunus Yosfiah. Pak Yunus peluk saya berikan dukungan, padahal kami tidak akrab.”

Bambang mengutarakan, dia tambah terharu dengan pernyataan Yunus saat itu. “Saya ini pejuang. Saya tidak suka negara ini diperlakukan seperti ini,” kata Bambang menirukan pernyataan lantang Yunus yang mantan Pangdam Sriwijaya itu.

 

 

(merdeka.com) http://www.merdeka.com/peristiwa/cerita-perlawanan-bambang-widjojanto-saat-diborgol-polisi.html