Rombongan pengusaha Al Sharif Faiz dari Alsharif Energy Company saat bertemu Gubernur Bali Made Mangku Pastika di Renon-Denpasar, Kamis (11/1).
Rombongan pengusaha Al Sharif Faiz dari Alsharif Energy Company saat bertemu Gubernur Bali Made Mangku Pastika di Renon-Denpasar, Kamis (11/1).

Denpasar – Investor dari Arab Saudi dan Turki berminat untuk berinvestasi dalam hal pengelolaan sampah di Bali. Terutama dalam hal investasi pengelolaan sampah menjadi energi. Ketertarikan tersebut disampaikan pimpinan rombongan pengusaha Al Sharif Faiz dari Alsharif Energy Company saat bertemu Gubernur Bali Made Mangku Pastika di Renon-Denpasar, Kamis (11/1).

BACA: India Jajaki Peningkatan Kerjasama Dengan Bali

Menurut Sharif Faiz, perusahannya telah menjalin kerjasama di sejumlah negara. Begitu juga sejumlah pengusaha Negara Timur Tengah sangat berminat menjajaki investasi di bidang pengelolaan sampah dan energi dengan Bali.

Gubernur Pastika menyambut positif tawaran kerjasama pananganan sampah dan energi yang diutarakan rombongan pengusaha Arab Saudi dan Turki. Mengingat  sampah memang masih menjadi salah satu problem yang dihadapi Bali sebagai daerah tujuan wisata. Salah satu persoalan yang belakangan menjadi sorotan adalah keberadaan Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Regional Suwung yang selama ini dimanfaatkan Denpasar, Badung, Gianyar dan Tabanan (SARBAGITA).

Menurut Pastika, banyak sekali investor nasional dan asing yang datang untuk menawarkan kerjasama pengelolaan TPA Regional Suwung. Tercatat sekitar  58 investor yang datang untuk menjajaki peluang kerjasama. “Artinya, pengusaha dari Arab Saudi dan Turki yang datang hari ini adalah investor yang ke-59,” ujar Pastika.

Namun penjajakan tersebut selalu terkendala regulasi nasional yang mematok harga pembelian listrik sangat rendah. Sehingga dari kalkulasi ekonomi, para pengusaha akan kesulitan balik modal. Hambatan lainnya adalah tawaran pengenaan tipping fee dari investor tak mendapat respon positif dari kabupaten/kota yang selama ini memanfaatkan TPA tersebut.

“Secara moral, saya ingin sekali bisa secepatnya menuntaskan persoalan ini. Tapi begitulah faktanya,” jelas Pastika

Secara total luas TPA Regional Suwung mencapai 32,46 haktare. Menyongsong pelaksanaan IMF- World Bank Annual Meeting pada Oktober 2018 mendatang, pemerintah pusat telah mengambilalih penanganan 22,46 haktare TPA yang akan dijadikan ecopark. Sisanya seluas 10 haktera, akan dikelola dengan konsep sanitary landfill management dan waste to energy.*