Jejak terlarang sopir Pantura

Kundur News.
Truk-truk tronton itu berjejer tepat di samping kanan jalan menuju arah Pamanukan. Di belakangnya, mobil-mobil itu membawa barang-barang dibungkus terpal. Mesin mobil-mobil itu dalam kondisi mesin mati dan tanpa pengemudi. Tak jelas di mana keberadaan para sopir-sopir itu. Namun tepat di seberang tempat sopir itu memarkirkan truk-truknya, berjejer juga kafe remang-remang.

Kafe-kafe itu ialah lokalisasi. Di sepanjang Jalur Pantura, kafe-kafe ini berjejer. Di depannya, wanita berpakaian seksi dengan dandanan menor menggoda setiap sopir-sopir lewat. “Ayang sini mampir,” begitu seorang wanita berpakaian seksi merayu para sopir-sopir itu mampir. Kata-kata dilontarkan mereka hampir sama. Semua dipanggil sayang seraya melambaikan tangan.

Kehidupan malam di Jalur Pantura memang seolah tak pernah surut. Saban malam musik tarling dan dangdut itu menggema hingga terdengar samar-samar. Kehidupan itu juga rupanya menjadi gambaran nyata dari sosok wanita vulgar kerap ditemui di belakang bak truk. “Kadang sopir juga suka minta dibuatkan seperti itu (Gadis-gadis Pantura),” ujar Warsono, seniman bak truk saat berbincang dengan merdeka.com, Sabtu dua pekan lalu.

Jangan kaget jika saking terkenalnya, dulu hampir setiap truk lewat dan berasal dari Pantura, gambarnya wanita seksi. Misal ‘Rayuan si Jablai’, gambarnya wanita dengan payudara hanya dibalut dengan kutang berenda. Gambarnya pun dibuat menerawang. Membuat libido naik setiap orang melihat gambar itu. “Kalau saya bikin itu beda, gambar wanitanya montok-montok. Payudaranya sampai keluar,” ujar Warsono.

Kafe remang-remang di jalur Pantura memang berjejer puluhan. Paling banyak kafe-kafe menjajakan pelacur itu ditemui di Kabupaten Indramayu hingga Subang. Jenis kafenya pun serupa. Sebuah rumah dengan banyak sekat kamar di dalamnya. Di sisi luar, kafe itu juga menyediakan karaoke menggunakan DVD. Kafe itu juga merangkap warung kelontongan menjual minuman. Musiknya menggema keras hingga terdengar sampai ke jalan raya. Sedangkan di bagian paling luar, wanita-wanita berpakaian seksi menggoda setiap pengendara lewat.

Keberadaan gambar-gambar wanita vulgar di belakang bak truk asal Pantura memang bisa jadi itu salah satu buah karya Warsono. Apalagi sebagai seniman pelukis bak truk dia mengerjakan sesuai pelanggan. Era 1990-an ialah kejayaan gambar-gambar wanita vulgar itu. Warsono mengaku gambar itu diminati para sopir biasa membawa barang melintas di Pantura. Apalagi cerita soal wanita dia gambar memang benar adanya.

Sosok wanita itu ialah gadis penggoda di Jalan Pantura. “Kadang saya suka diceritakan juga sama sopirnya,” kata Warsono sambil mengepulkan asap rokoknya. Meski kini tak ada lagi para sopir itu meminta digambarkan wanita vulgar, namun cerita tentang Pantura memang kadung kesohor hingga kini. Terkenal karena gadisnya. “Kalau sekarang sudah jarang yang mau,” katanya.

Salah satu tempat pernah merdeka.com sambangi mengenai cerita gadis-gadis Pantura. Pasar Jodoh di Kecamatan Kandanghaur, Kabupaten Indramayu nama tempat itu. Di salah satu desa, banyak wanitanya sudah menyandang status janda di usia muda. Usianya pun terbilang belia, masih di bawah 17 tahun. Namun karena perkawinan mereka kandas, mau tak mau mereka menyandang status janda.

Eka salah satunya. Saat berbincang dengan merdeka.com, dia sedang menunggu suaminya melintas membawa penumpang menuju Terminal Pulo Gadung, Jakarta Timur. Pekerjaan suaminya ialah sopir. Eka memesan dua bungkus es buah untuk dititipkan kepada suaminya. Ketika suaminya melintas, Eka kemudian menaiki bis kelas ekonomi itu untuk meminta jatah uang.

“Paling seminggu sekali di tengokin,” ujar Eka sambil tertawa. Menurut Eka, keponakannya kini ada tiga orang menyandang status janda. Usianya masih belasan. “Usianya 16 tahunan,” ujarnya.

 

 

(Merdeka.com)