Kecelakaan Laut ABK KLM Fajar Rezeki 2 Hanya Bisa Pasrah

Karimun – Korban kecelakaan laut yang menimpa Riski F Irawan ABK Kapal kargo angkutan barang tujuan Tanjungbalai Karimun –Tanjungbalai Asahan yang menyebabkan patah pada tulang pinggang pada (25/9/17) yang lalu, kini korban kembali melakukan perawatan perobatan di RSUD M Sani, pada hari Rabu dan Kamis, (10-11/1/18).

BACA: Mayoritas Pekerja Kapal di Karimun, Tanpa Asuransi Ketenagakerjaan

Riski ditangani oleh dua dokter ahli di rumah sakit tersebut, dokter sepesialis Saraf, dan dokter sepesialis Fisioterapi. Dalam keterangan Spesialis Saraf, dr.Rosdiana mengatakan kondisi Riski saat ini perlu perawatan yang rutin, karena kondisi tulang yang patah walau tetap saja patah, namun saraf-saraf yang dialaminya saat ini butuh waktu untuk penyembuhan.

“Melaui fisioterapi nanti serta obat-obat yang kita berikan, secara rutin, kondisi akan berangsur membaik”, kata dr.Rosdiana.

Kondisi patah tulang yang dialami Riski juga disebutkan sebelumnya oleh petugas Radiologi di Rumah Sakit tersebut, melalui foto CT Scan yang dibacakannya menyebutkan, kondisi patah pada tulang tetap saja patah, melalui dokter ahli nanti diharapkannya akan berangsur pulih.

“Dari foto awal saat kecelakaan dengan foto saat ini, patah tetap saja patah, namun nanti bersama dokter ahli nanti bisa dilakukan perobatan”, kata petugas di ruang radiologi RSUD M Sani, sambil menyerahkan foto tersebut.

ABK Kapal KLM Fajar Rezeki 2 itu saat ini mengaku hanya bisa pasrah, selain asuransi ketenagakerjaan ataupun asuransi kesehatan lainnya tidak ia milikinya ia juga harus menerima pemecatan dari tempat dimana ia bekerja, akibat besarnya biaya perobatan yang telah dikeluarkan oleh pihak perusahaan yang berada di Puakang, Tanjungbalai Karimun tersebut.

Dengan kondisi cacat sudah tidak bisa lagi untuk bekerja, untuk menyambung biaya hidupnya serta biaya perobatannya Riski harus merogoh koceknya agar sakit yang berkepanjangan yang dideritanya itu dapat dirasakan ringan. Pihak keluargalah yang menopang untuk biaya keseluruhan tersebut.

“Melalui pesan WA pada saat itu, saya disebutkan tidak lagi sebagai pekerja di kapal tersebut. Jadi saya harus mau gimana lagi dengan kondisi saya saat ini. Pihak keluargalah yang menanggung kesemuanya ini. Kalau kita tidak lanjutkan berobat, harus bagaimana, setiap kali buang air kecil terus terasa sakit, tiap kali mau tidur susah, tidur miring sakit, geser sedikit terasa sakit, apalagi mau bekerja”, terang Riski.

ABK kapal yang memiliki buku pelaut serta setifikat pelaut yang lengkap tersebut juga berpesan kepada rekan-rekannya sesama pelaut agar tidak ada lagi nasib serupa yang menimpa pada ABK-ABK lainnya.

“Cukuplah saya saja yang menimpa nasib seperti ini. Cukuplah, tidak ada lagi Riski-Riski lainnya,” pungkasnya.