Tanjungbatu – Tradisi festival lampu colok dan pawai takbir keliling yang selama ini rutin dilaksanakan oleh masyarakat Kabupaten Karimun khususnya masyarakat pulau Kundur kini tidak tampak lagi. Kegiatan turun temurun tersebut biasanya digelar mulai dari malam 27 Ramadhan hingga malam lebaran dalam menyemarakkan semangat kemenangan di hari lebaran, kini absen tiga tahun berturut-turut, walau pademi sudah mereda.

Hal itu disampaikan salah satu warga Gading Sari yang juga mahasiswa asal Kundur, Zulfahmi, kepada Kundur News, Ahad (01/05/2022).

Sebagai bentuk rasa kecewa, merekapun mendirikan sepanduk di simpang Urung Tanjungbatu, yang bertuliskan ‘Selamat Hari Raya Idul Fitri Untuk Pak Bupati dan Pak Dewan, Kami Rindu Tradisi Pawai Takbir dan Lampu Colok’, tulisnya.

Zulfahmi sapaan Zul, juga mengungkapkan, bagi masyarakat Kundur tradisi lampu colok dan Pawai takbir keliling merupakan tradisi yang memiliki nilai agamis dan rasa kebersamaan yang harus dilestarikan. Lampu colok dengan berbagai model yang biasa terpasang disamping jalan, kini tidak terlihat lagi menghiasi pinggir jalan. Bahkan tradisi pawai takbir keliling yang menyemarakkan malam takbiran idul Fitri tidak lagi digelar.

Kemeriahan untuk menyambut hari raya idul Fitri tidak lagi dirasakan oleh masyarakat kundur setelah pawai takbir keliling ditiadakan selama 2 tahun terakhir. Untuk melestarikan tradisi ini tentunya perlu peran pemerintah daerah kabupaten Karimun bersama dengan Dewan perwakilan rakyat kabupaten Karimun, untuk selalu¬† mendukung penuh kegiatan kegiatan positif masyarakat, dalam hal mempertahankan tradisi yang merupakan sebuah kearifan lokal bagi masyarakat Kundur Kabupaten Karimun,” ungkapnya.

Dalam kesempatan itu dia juga berharap kedepannya untuk dapat kembali melestarikan tradisi tersebut .*