Inhil – Puncak peringatan Hari Tuberkulosis Sedunia, Promosi Kesehatan Rumah Sakit (PKRS) Puri Husada Tembilahan menggelar seminar serta pemberian cinderamata, doorprize di Poliklinik Gedung baru RSUD PH Tembilahan, Kamis (24/3/22).

Dr. Aleksis, Sp.P (Spesialis Paru) PH Tembilahan selaku narasumber pada penyuluhan tersebut menjelaskan bahwa Tuberculosis atau yang lebih dikenal dengan sebutan TBC adalah penyakit yang disebabkan oleh kuman Mycobacterium tuberculosis. Bukan penyakit keturunan, bukan disebabkan oleh kutukan atau karena guna-guna.

Ia menambahkan bahwa kuman TB dapat menyerang hampir semua bagian tubuh, yang paling sering terkena adalah paru.
TB dapat menyerang siapa saja, terutama usia produktif/masih aktif bekerja (15-50 tahun dan anak-anak. TB dapat menyebabkan kematian apabila tidak diobati, 50% dari pasien TB akan meninggal setelah 5 tahun.

“Kasus TB di dunia tahun 2017 meliputi beberapa negara pertama di India, ke dua Indonesia, tiga China, empat Filipina, dan terakhir di negara Pakistan,” sebutnya.

Dr. Aleksis mengatakan gejala penyakit TB adalah, batuk disertai dahak terus menerus selama 2 Minggu atau lebih. Gejala tambahan badan lemah, nafsu makan menurun, berat badan turun, rasa kurang enak badan. Berkeringat malam walaupun tanpa kegiatan, demam meriang lebih dari sebulan.

“Gejala yang sering di temui, dahak bercampur darah, batuk berdahak, sesak nafas dan rasa nyeri dada,” tukasnya.

Lebih lanjut disebutkan Dr Aleksis bahwa TB bisa menular terutama bila dalam dahak pasien ditemukan kuman TB. Kuman TB keluar ke udara pada saat penderita TB batuk, bersin, atau berbicara.

“Kuman TB terhirup oleh orang lain melalui saluran pernapasan menuju paru-paru dan dapat menyebar ke bagian tubuh lainnya. Di dalam tubuh, kuman TB dilawan oleh daya tahan tubuh, jika daya tahan tubuh lemah, orang tersebut menjadi sakit TB, tetapi jika daya tahan tubuh kuat, orang tersebut tetap sehat,” ungkapnya.

Resiko penularan Tuberculosis, pasien TB paru dengan BTA positif memberikan resiko penularan lebih besar dari pada pasien TB paru dengan BTA negatif. Resiko seseorang terpapar kuman TB ditentukan oleh jumlah percikan dahak dalam udara dan lamanya menghirup udara tersebut.

“Jika ada pasien TB BTA positif maka harus dilakukan pemeriksaan kontak serumah yang memiliki gejala TB,” sebutnya.

Sedangkan orang yang beresiko tinggi terkena TB, beberapa diantaranya adalah,
orang yang kontak erat dengan pasien TB BTA positif yang belum diobati, orang yang status gizinya rendah, orang yang daya tahan tubuh rendah, bayi dan anak-anak yang kontak erat dengan pasien TB BTA positif, orang dengan penyakit kencing manis HIV dan Aids.

“Penyakit TB dipastikan dengan pemeriksaan dahak. Dahak sewaktu datang ke puskesmas/RS, dahak pagi ketika bangun tidur, dahak sewaktu datang ke puskesmas/RS pada hari ke 2,” paparnya.

Lebih lanjut ia menjelaskan bahwa efek samping obat pada sebagian pasien TB dapat menimbulkan beberapa efek samping, diantaranya sebagai berikut; gatal dan kemerahan di kulit, mual, muntah, tidak nafsu makan, nyeri perut, diare, nyeri sendi,nyeri tulang, kesemutan, telinga mendengung, kulit kekuningan Hepatitis. Air seni berwarna merah bukan efek samping obat tetapi akibat normal karena minum OAT.

“Meskipun meminum obat-obatan ini memberikan efek samping bagi pasien itu wajar wajar saja karena setiap pasien memiliki daya tubuh dan imun yang berbeda. Untuk itu, membutuhkan keterampilan dalam merawat pasien TB hingga sembuh, seperti minum obat teratur dan benar sesuai anjuran dokter selama 6 bulan. Melibatkan anggota keluarga untuk mengawasi dan memastikan penderita TB minum obat dengan teratur dan benar,” paparnya.

Dr Aleksis menambahkan jika semua proses pengobatan ini dilakukan dengan benar dan teliti maka ke sembuh akan berhasil. Kemudian hasil pemeriksaan ulang dahak pada akhir pengobatan (bulan ke-6) tidak ditemukan kuman lagi (negatif). Kemudian tidak ada lagi Keluhan berkurang atau hilang, Berat badan meningkat atau bertambah, Pemeriksaan dahak pada saat bulan ke 2 sesudah meminum OAT menunjukkan hasil negatif. Dilanjutkan pemeriksaan dahak di bulan ke-5 dan ke 6, danbKemajuan pengobatan belum berarti sembuh dari penyakit TB, minum obat diteruskan sampai sekurang-kurangnya 6 bulan.

“Intinya yang dapat menyatakan pasien TB telah sembuh hanyalah petugas kesehatan yang memantau pengobatan TB,” pungkasnya.*