Saat Bukit Siamban Kundur, Tidak lagi menjadi Bukit

Kundur News
Kundur Karimun Kepri.

Tidak hanya PT IBS yang terus saja meluluhlantakan bumi Kundur dengan tambang pasirnya yang sudah berbentuk kubangan-kubangan besar di wilayah Kundur Barat. Dan penambangan timah yang dilakukan PT Timah Unit Kundur yang kini terus saja mengobok-obok lautan Kundur. Sementara sampai sejauh ini belum jelas kontribusinya untuk masyarakat dari kedua tambang tersebut. Mudhorat lebih besar ketimbang manfaat. Yang miskin menjadi tambah miskin, yang kaya terus merajalela.

Kedua tambang raksasa yang telah menghancurkan bumi Kundur yang membuat bagai kiamat secara perlahan, kini lagi hadir penambangan tanah uruk yang berada di kelurahan Gading Sari tepatnya di bukit Siamban Kundur. Bukit Siamban adalah bukit tertinggi setelah bukit Gading di kepulauan Kudur. Tidak hanya mempunyai nilai histori tersendiri, Kedua bukit yang merupakan icon Kundur dari kejauhan tersebut, kini lagi secara perlahan di usik dengan cara dikuras bukit bukitnya dengan menggunakan alat raksasa berupa kolbeco-kolbeco.

Hasil pantauan Awak media dilapangan, sedikitnya 2 alat berat Excavator yang sedang beraktivitas menguras tanah-tanah bukit untuk dijual ke luar daerah. Aneh ! pengerukan tanah dengan sekala besar tersebut, Lurah Gading Sari, Persyada saat dikonfirmasi keberadaan tambang tersebut, malah tidak mengetahuinya.

“Saya tidak tahu itu tambang milik siapa, soalnya orang tu tidak ada laporan ke kami”. Ujar persyada singkat.

Padahal menurut pengakuan salah satu supir truck/lori saat di tanya wartawan, ia malah, menyebutkan “Pihak kantor lurah perlori kami setor Rp.5.000,- perlori. Satu hari hampir 80 lori”. Kate supir yang tidak mau disebutkan namanya ini.

Sedangkan menurut salah satu masyarakat di sekitar meyebutkan kepemilikan tambang tanah urug tersebut dikelola oleh seseorang yang bernama Romi.

“Yang kelola tanah urug ini pak namanya Romi, pemiliknya salah satu anggota DPRD Karimun”. Ujar salah satu masyarakat yang tinggal di sekitar penambangan.

Tidak hanya di sekitar penambangan, masyarakat di sepanjang jalan penambangan pun sudah mulai resah, disamping debu yang mereka dapatkan, apalagi dimusim panas ini, juga kontribusi yang tidak jelas bagi mereka memang tidak pernah ada.

“Ape yang kami dapat dari orang jual tanah ni pak, debu aje yang dapat”. “Abok pun takde”.

Semoga aparat terkait, terutama pemerintah daerah lebih jeli terhadap izin-izin yang telah diberikan dan lebih peduli terhadap nasib bumi Kundur kedepan, dimana semua Sumber Daya Alam yang ada, akan secara perlahan habis terjual oleh orang orang tertentu.

+
Oleh : Mar/Redaksi
Berita dari Kundur