Selama Tahun 2016, Ratusan GBD di Inhu Belum Terima Gaji

Kundur News.

Sedikitnya 432 GBD (Guru Bantu Daerah) Provisnsi Riau yang bertugas di Kabupaten Indragiri Hulu hingga saat ini belum menerima gaji selama tahun 2016.Sakitnya lagi, hingga saat ini besaran gaji yang akan mereka terima masih belum dapat diketahui oleh para pahlawan tanpa tanda jasa itu.

“Dari Januari hingga pertengahan Maret ini, gaji GBD Provinsi belum dibayarkan, padahal gaji tersebut sangat kami butuhkan, terlebih bagi GBD yang bertugas didaerah terpencil,” ujar Ketua Forum GBD Riau, Inhu, R Muhammad Ali Nafiah kepara para wartawan, Selasa (15/3/2016) di Pematang Reba.

Menurutnya, gaji guru bantu memang biasa dibayarkan per triwulan setiap awal tahun, setelah itu baru dibayarkan setiap bulan. Dan ini kan sudah masuk bulan ke tiga 2016. “Belum lama ini kami mendapat informasi penyaluran gaji guru bantu akan dikirim melalui rekening masing-masing guru,” ujarnya.

Dituturkan Muhamad Ali, selam belum gajian, untuk menutupi kebutuhan sehari-hari, para GBD itu mengaku harus mencari kerja sampingan. Seperti, jualan air galon, bercocok tanam dan bahkan ada yang kerja sebagai kuli bangunan sepulang dari tugas.

“Pekerjaan ini dapat kami lakukan bagi kami yang tinggal didaerah rapai atau kota. Bagi kawan-kawan lain yang bertugas didaerah terpencil dan dipedalaman, saya kurang tahu apa aktifitas yang mereka lakukan untuk menyambung hidup jelang gajian. Karena kebanyakan dari mereka juga sulit berkomunikasi karena terpencil,” tuturnya.

Bersamaan dengan itu, Mulyadi salah seorang GBD Provinsi Riau yang bertugas didaerah terpencil, tepatnya Dusun Sadan, Kecamatan Batang Gansal Inhu ini menuturkan, bahwa untuk memenuhi kebutuhan hidup keluarganya, drinya harus bekerja keras mencari penghasilan tambahan.

Setiap hari libur, guru yang mengajar anak-anak suku Talang Mamak itu pulang kerumahnya di Desa Sibabat, Kecamatan Seberida. Begitu sampai dikampungnya, Mulyadi bekerja mengambil upah menderes kebun karet warga daerah itu.

“Setiap hari libur, saya pulang ke rumah di Desa Sibabat. Bukannya saya liburan sama anak istri, saya harus menderes kebun karet orang dan uangnya bisa untuk bertahan jelang gaji diterima,” pungkas Mulyadi mengakui.

goriau.com