Kundur News.

Kepolisian Republik Indonesia akhirnya membentuk tim investigasi untuk mendalami kebenaran testimoni milik terpidana mati milik Fredi Budiman yang berjudul ‘Cerita busuk seorang bandit’. Tim ini dipimpin langsung oleh Inspektur Pengawas Umum (Irwasum) Polri Komjen Dwi Priyatno dan mulai bekerja sejak Minggu (7/8).

Dilansir dari merdeka.com, Tim investigasi ini bekerja hanya untuk mengumpulkan fakta-fakta atau informasi penting dari orang-orang tertentu yang dianggap mengetahui testimoni tersebut. Nantinya, fakta yang ditemukan akan diserahkan kepada penyidik Bareskrim untuk ditindaklanjuti. Tim investigasi akan bekerja selama tiga bulan ke depan.

Publik pun berharap besar tim ini bisa membuktikan pengakuan Fredi soal keterlibatan aparat dalam bisnis besar narkoba. Pengamat kepolisian Novel Ali mengatakan, tim ini dibentuk sebagai pertaruhan citra ketiga institusi yang disebutkan Fredi.

Apabila tim ini bisa menemukan fakta yang membuktikan aparat Polri, TNI dan BNN tidak terlibat dalam jaringan Fredi, maka citra baik akan didapat.

“Kalau saya melihat kasus ini ujian bagi Polri, kalau lulus citra Polri jadi baik. Kalau tidak lulus ya citra buruk Polri akan terjadi lagi,” kata Novel saat berbincang dengan merdeka.com, Rabu (10/9).

Novel mengaku menyambut baik sekaligus berharap tim investigasi ini bisa bergerak secara objektif dan tidak memihak. Apalagi, menurutnya, komposisi personel sudah cukup ideal dan berpengalaman di bidang penyelidikan. Selain dari pihak Polri, TNI dan BNN, unsur masyarakat pun dilibatkan masuk dalam tim.

Adapun tokoh yang dilibatkan dalam tim investigasi ini antara lain, Ketua Setara Institute Hendardi, Komisioner Kompolnas Poengky Indarti, dan pengamat komunikasi politik Effendy Ghazali. Turut serta juga sejumlah anggota Propam Polri dalam tim investigasi tersebut.

“Ini satu political will yang bagus sekali bagi institusi Polri juga bagi presiden. Untuk menindaklanjuti testimoni Fredi. Tim ini harus independen dan objektif. Saya kira sama mereka orang-orang pengalaman di bidang penyelidikan dan penyidikan,” terangnya.

“Akan ada pola kerja yang baik. Yang penting dari orang-orang yang bisa memberikan informasi yang benar dan input yang tidak memihak. Kita tidak boleh berpotensi bahwa Haris Azhar atau salah, LSM benar, dan kompolnas benar. Temukan dulu fakta di lapangan,” tambah Novel.

Tantangan berat, lanjutnya, berada di tangan tim investigasi ini. Karena, mereka harus mencari fakta soal testimoni Fredi yang diragukan kebenarannya. Ditambah, kesaksian Fredi yang dibuka oleh koordinator KontraS Haris Azhar itu menyangkut para pejabat atau jenderal ketiga institusi itu.

“Publik tidak boleh beranggapan tim khusus enggak bersih, atau tidak objektif. Kan ada anggota dari kompolnas ada dari LSM, institusi lain. Secara profesional bisa diharapkan, jangan buru-buru khawatir tidak objektif. Pemerintah tidak selalu salah, LSM tidak selalu benar. Lihat dari proses, kalau menemukan orang yang netral yang punya integritas moral dan kompeten di bidang ini hasil kerja yang memadai,” tegas dia.