Produksi-Sampah-di-Bali

Kundur News – Denpasar – Berdasarkan data Dinas Lingkungan Hidup Provinsi Bali jumlah produksi sampah di Bali mencapai 10.266 m3/hari. Timbunan sampah tersebut terdiri dari 5.566 m3/hari sampah perkotaan, dan 4.700 m3/hari sampah perdesaan. Demikian disampaikan Kepala Bidang Pengelolaan Sampah, Limbah B3 dan Peningkatan kapasitas Dinas Lingkungan Hidup Provinsi Bali Putu Yupi Wahyundari, SH, MH pada keteranganya di Denpasar, Jumat (8/9).

Menurut Yupi,  jika dilihat lebih rinci komposisi sampah perkotaan terdiri dari sampah domestik (rumah tangga) sebanyak 2.357 m3/hari dan non domestik (sampah sejenis rumah tangga) mencapai 3.209 m3/hari. Jika dilihat dari jenis sampah maka 12% adalah sampah plastik.

Yupi menyebutkan terdapat beberapa permasalahan dalam pengelolaan sampah di Bali. Salah satunya yaitu pengelolaan sampah belum terintegrasi dari hulu ke hilir. Permasalahan lainnya adalah kesadaaran masyarakat untuk memilah sampah masih rendah dan sarana angkutan yang dimiliki oleh pemda belum terpilah antara organik dan an organik. Persepsi masyarakat yang menganggap sampah sebagai barang kotor, tidak berharga, tidak bermanfaat dan tidak mempunyai nilai ekonomis, ini juga menjadi masalah” ujar Yupi.

Kegagalan dalam pengelolaan sampah juga berbuntut pada kondisi overload(kelebihan daya tampung)  yang terjadi di tempat pembuangan akhir (TPA). Kondisi overlod salah satunya terjadi di TPA Sarbagita. Overload terjadi karena sampah yang masuk ke TPS seluas 32,46 hektar tersebut merupakan sampah glondongan tanpa ada pemilahan. “Setiap harinya Sampah yang masuk ke TPA Sarbagita  sebanyak lebih kurang 1.270 ton per hari, dengan komposisi 750 ton dari kota Denpasar sisanya dari Kabupaten Badung, tanpa pemilahan” papar Yupi.

Yupi mengakui kondisi overload juga terjadi di TPA di sejumlah kabupaten di Bali. TPA tersebut diantaranya TPA Temesi, Gianyar, dan TPA  Sente Kabupaten Klungkung. “Volume sampah masuk ke TPA sudah melebihi kapasitasnya dan beberapa TPA di Bali sudah ditutup” kata Yupi.

Yupi menegaskan perlu upaya strategis agar TPA dapat berumur panjang dan tidak mengalami overload. Cara sederhana yang dapat dilakukan oleh semua pihak yaitu melakukan pemilahan Pemilahan sampah tersebut dapat dilaksanakan dengan memisahkan sampah organik, dan anorganik. Apabila sampah dipilah, maka 60% adalah sampah organik, 30 % sampah anorganik dan sisanya 10% adalah sampah residu. Hanya Sampah residu ini yang seharusnya masuk ke TPA, sehingga umur TPA itu akan panjang.*