Sejumlah pedagang durian di Tanjungbatu batu, Ahad (08/07/18)
Sejumlah pedagang durian di Tanjungbatu batu, Ahad (08/07/18)

Tanjungbatu – Banjirnya buah-buahan musiman seperti buah rambutan dan durian membuat harga di pasaran Tanjungbatu saat ini mulai mendekati harga termurah. Para petani durian pun mulai mencari strategi lain agar harga dapat stabil. Namun beda dengan petani rambutan, yang hanya mengaku pasrah.

Harga durian untuk kualias A misalnya, harga jual sebelumnya Rp 30.000,- per kilogram, saat ini sudah menjadi Rp 12.000,- per kilogram, yang dijual ke penampung. Untuk durian pada kualias sedang/menengah, dijual di pasaran Tanjungbatu dengan harga Rp 10.000,- harga jual langsung dari petani seharga mulai dari Rp 5.000 sampai dengan Rp 7.000. Rendahnya harga jual saat ini membuat petani memilih membuat dodol durian ataupun selai durian, sebagai alternative agar harga durian tidak terlalu rendah.

“Kalau penampung mau membeli dengan harga Rp 7.000 masih lumayan, kalau harga Rp 5.000 perkilo, lebih baik kami buatkan lempuk (dodol durian), itupun sudah separuh kami jual dengan harga Rp 5.000,-,” kata Aziz, petani durian saat mengantar duriannya di pasar Tanjungbatu, (08/07/18).

Dikatakannya lagi, dengan cara membuat dodol durian nantinya, setidaknya harga dodol itu akan sebanding dengan harga durian, dimana akan dihitung Rp 15.000,- hingga Rp 20.000,- per kilo.

“Kalau kita buatkan dodol, selain yang rusak, merekah atau busuk pada bagian buah dapat kita manfaatkan dengan dibuatkan dodol, harga durianpun tidak terlalu turun, hanya saja waktu pengerjaan serta penjualannya yang butuh waktu yang agak lama,” tambahnya.

Beda dengan petani buah rambutan. Petani asal desa Sei Ungar Utara ini menuturkan harga rambutan saat ini sudah mencapai Rp 3.500,- per kilogram. Dari harga sebelumnya Rp 13.000,-per kilogram.

“Harga saat lebaran kemarin, kami jual ke penampung mencapai Rp 13.000,- per kilogram. Saat ini sudah Rp 3.500,- perkilo. Hitung-hitung kami hanya ambil upah manjat,” kata ibu petani rambutan itu saat mengikat-ikat buah rambutan sambil menunggu suaminya memanjat pohon tersebut.

Pengakuannya juga menyebutkan,” tidak ada cara lain untuk membuat harga tetap naik, kalau tak diambil, buah di pohon akan terlalu masak dan membusuk, jadi, berapa harga kesanggupan penampung, mau tidak mau kami mesti ikutkan,” ucapnya.

Dalam sehari ibu asal Sei Ungar Utara itu, diketahui berhasil memanen sedikitnya 50 Kilogram rambutan. Menurutnya rambutan hasil kebunnya itu biasanya di bawa ke pasaran Batam dan Tanjungpinang.*