Guru Diharapkan Ambil Peran Dalam Proteksi Siswa Dari Bahaya Narkoba dan HIV/AIDS

    Bahaya Narkoba dan HIV/AIDS, sekolah telah memasukkan materi HIV/AIDS dan narkoba dalam kurikulum serta mengintegrasikan kebeberapa mata pelajaran.

    Kundur News – Denpasar – Para guru diharapkan mengambil peran dalam upaya memproteksi siswa dari Bahaya Narkoba dan HIV/AIDS. Mengingat penyalahgunaan narkotika dan obat-obatan terlarang di kalangan generasi muda termasuk didalamnya para pelajar dewasa ini kian meningkat.

    BACA: KSPAN Diminta Berperan Dalam Penanggulangan HIV/AIDS

    Harapan tersebut disampaikan Wakil Gubernur Bali Ketut Sudikerta yang juga selaku Ketua Penanggulangan HIV/AIDS dalam sambutannya saat penilaian Lomba Kelompok Siswa Peduli AIDS dan Narkoba (KSPAN) Tingkat SMA/SMK se Bali Tahun 2017 di SMKN 1 Sukasada, Buleleng, Rabu (25/10).

    Wagub Sudikerta menyampaikan perlu sinergi tanggung jawab baik dari para guru Pembina, orang tua dalam memproteksi para siswa dari bahaya narkoba dan HIV/AIDS.

    Wagub mengapresiasi beberapa sekolah yang telah memasukkan materi HIV/AIDS dan narkoba dalam kurikulum serta mengintegrasikan kebeberapa mata pelajaran yang relevan dengan kesehatan, perilaku dan budi pekerti. Jika model tersebut belum memungkinkan untuk dilaksanakan, maka kegiatan KSPAN merupakan solusi awal menjauhkan HIV/AIDS dan Narkoba dari kehidupan siswa.

    “Saya mengapresiasi dan mendorong kegiatan ini agar dilaksanakan lebih intensif, sistemik, massif dan terstruktur” ujar Sudikerta.

    BACA: Ancaman HIV/AIDS di Bali Tinggi

    Sudikerta menyampaikan berdasarkan data dari Dinas Kesehatan Provinsi Bali menyebutkan bahwa total kumulatif kasus HIV/AIDS di Bali sejak 1987 sampai Juli 2017 mencapai 17.280 kasus yang tersebar di Kabupaten/kota se Bali.

    Sebagian besar dari kasus tersebut menyerang usia produktif berkisar anatara 15 sampai 50 tahun dan setengahnya dari usia produktif tersebut adalah siswa pelajar SMP/SMA.

    “Inilah esensi acara lomba ini kenapa difokuskan pada siswa agar mereka tahu dan sadar betapa buruknya dampak dari narkoba dan HIV/AIDS” ungkap Sudikerta.

    BACA: Pendidikan AIDS Diusulkan Jadi Program Intrakurikuler Bagi Sekolah-Sekolah di Bali

    Kepala sekolah SMKN 1 Sukasada Pande Made Suardana dalam laporannya menyampaikan bahwa sekolah seni ini yang memiliki 9 jurusan dan 814 siswa ini telah memulai kegiatan KSPAN sejak tahun 2006 lalu.

    Dengan menggunakan dana bos dan dana komite, kegiatan para siswa selain mengikuti mata pelajaran utama, juga disisipkan ekstra bela negara dan pramuka sebagai ekstra wajib. Tidak hanya itu untuk memantapkan pemahaman dampak bahaya dari pergaulan bebas dan narkoba, sekolah ini telah  memiliki 6 tim dari SMKN 1 Sukasada yang terlibat langsung dalam kegiatan KSPAN.*