Wakil Gubernur Bali Ketut Sudikerta dalam acara Pengukuhan Ikatan Wartawan Online (IWO) Bali, di Gedung Sewaka Dharma, Lumintang, Denpasar, Selasa (25/7).
Wakil Gubernur Bali Ketut Sudikerta dalam acara Pengukuhan Ikatan Wartawan Online (IWO) Bali, di Gedung Sewaka Dharma, Lumintang, Denpasar, Selasa (25/7).

Kundur News – Denpasar – Ikatan Wartawan Online (IWO) didesak untuk berperan aktif dalam upaya menangkal berkembangnya informasi hoax (bohong). Informasi hoax seringkali menimbulkan berbagai gesekan dalam lapisan masyakarat. Desakan tersebut disampaikan Wakil Gubernur Bali Ketut Sudikerta dalam acara Pengukuhan Ikatan Wartawan Online (IWO) Bali, di Gedung Sewaka Dharma, Lumintang, Denpasar, Selasa (25/7).

Menurut Sudikerta, masyarakat Indonesia saat ini umumnya senang berbagi informasi yang dibarengi dengan perkembangan teknologi digital dimana penetrasinya hingga berbagai kalangan, peredaran informasi menjadi kian sulit terbendung. Sedikitnya 170 juta masyarakat Indonesia memiliki minimal satu ponsel atau setidaknya satu SIM card dengan demikian, mereka bisa berbagi informasi dengan cepat. Media sosial dan aplikasi pengirim pesan cepat (chat apps) menjadi media favorit. Namun, rupanya hal ini menimbulkan suatu polemik baru.

Wagub Sudikerta menyampaikan bahwa perkembangan informasi melalui media sosial saat ini juga sudah menembus batasan kehidupan berbangsa dan bernegara. Keberadaan ikatan media online diharapkan dapat menjadi acuan masyarakat dalam menerima informasi yang baik dan benar serta bisa dipertanggung jawabkan. Selain itu, keberadaan media online bersama media cetak serta media elektronik bisa bersinergi untuk melakukan gerakan dalam rangka mencerdaskan masyarakat memanfaatkan informasi dengan baik.

Sudikerta menambahkan perkembangan media sosial juga memiliki dampak yang sangat negatif yang bisa menjerumuskan kehidupan masyarakat. Informasi media sosial juga sering dimanfaatkan oleh sekelompok orang untuk kepentingan tertentu sehingga bila masyarakat tidak cerdas akan merusak tatanan kehidupan bermasyarakat berbangsa dan bernegara.

Kondisi seperti itu saat ini sangat dirasakan khususnya pada kegiatan perpolitikan dengan penyebaran isu berbau sara, rasa kebencian yang akhirnya memicu konflik ditengah masyarakat.

“Mengatasi hal itu, kedepannya saya harap seluruh jajaan media baik online, cetak, maupun elektronik serta pejabat pengelola informasi di Kabupaten/Kota se Bali dapat sebagai sumber informasi yang baik dan faktual untuk masyarakat dan dapat bersama-sama menyatukan langkah membangun masyarakat Bali yang Maju, Aman, Damai dan Sejahtera,”ujar Sudikerta.

Ketua Umum Dewan Perwakilan Pusat Ikatan Wartawan Online Jodi Yudono mengungkapkan bahwa mulai era 1990’an banyak bermunculan ‘citizen jurnalistik’   karena masyarakat mulai tidak percaya dengan keberadan pers atau media, sehingga masyarakat memilih untuk membuat beritanya sendiri yang kebenarannya belum teruji dengan benar.

Hal inilah yang menjadi tantangan IWO dalam merubah maindset masyarakat untuk kembali percaya kepada pers, tentunya hal tersebut juga harus dibarengi dengan peran media yang memberikan infomasi yang akurat kepada masyarakat.*