Unud Uji Pemanfaatan ‘Selimut Lahan’ Atasi Erosi di Kawasan Pegunungan Baii

    Kundur News – Denpasar – Bali sejak beberapa tahun belakangan ini menghadapi masalah lahan kritis karena minimnya vegetasi akibat penebangan pohon berlebih di kawasan hutan lindung. Bencana tanah longsor dan kekeringan mengancam sebagian kawasan pengunungan dengan lereng yang kemiringannya lebih dari 60o.

    Mengatasi hal tersebut Universtas Udayana (Unud) bekerjasama Yamaguci University, Jepang  dan JICA menguji coba pemanfaatan teknologi “selimut lahan” di kaki Gunung Batur Kintamani.

    Hal itu diungkapkan Guru Besar Universitas Yamaguci, Jepang Prof. Takuya Marumoto saat berbicara selaku keynote speaker pada International Conference Bioscience and Biotechnology (ICCB) ke-8 di Kampus Unud, Denpasar Kamis (14/9) kemaren. ICBB ke-8 menjadi rangkaian kegiatan HUT ke-50 FP Unud dan Perayaan Dies Natalis Unud pada 29 September 2017 mendatang.

    Prof. Takuya Marumoto menjelaskan uji coba pemanfaatan “selimut lahan” cukup berhasil untuk menahan tanah dikawasan rawan erosi. Dalam setahun sekitar 15 cm tanah subur berhasil ditahan oleh selimut lahan, dan ditumbuhi vegetasi. “Selimut lahan” terbuat bahan yang dapat terurai seperti sabut kelapa atau jerami. Guru Besar Unud Prof. Dr. Ir. I Gede Putu Wirawan selaku tim peneliti menambahkan selimut lahan berupa jaring (net) yang dipasang ditanah diidalamnya ada semacam serbuk untuk menyerap air.

    Jadi selimut ini memiliki banyak fungsi sehingga teknologi ini dinamakan multifunctional sheet atau soil protection sheet. Selain berfungsi menahan lapisan humus yang larut terbawa musim hujan, juga dapat sebagai media tumbuh. Prof. Wirawan menjelaskan semakin lama bahan ini terurai maka akan semakin bagus, karena bisa membuat lapisan tanah subur lebih tebal, dan tumbuhan sudah tumbuh besar.

    Ditambahkan, kerja sama penelitian tersebut telah berjalan 4 tahun dari 2012-2016 dengan melakukan uji coba di tiga lokasi (site) di areal Gunung Batur dengan luas areal yang ditutupi sekitar 80 are. Prof. Wirawan menggarisbawahi teknologi ini dijual senilai Rp 420/ m2, dan sasaran pemanfaatannya tidak kepada petani tetapi perusahaan besar dan pemerintah. Teknologi ini sudah dipasang di Jalan Trans Sumatra, Tol Cikampek, dan di Negara Timor Leste. Selimut ini dipasak dikawasan pembukaan lahan baru seperti pembangunan jalan, maka pada tebing-tebing tinggi bisa dipasang untuk merangsang tumbuhnya vegetasi baru.

    Sementara itu keynote speaker lainnya Dr. Inez S. Loedin menyampaikan materi terkait modifikasi gen tanaman, hewan, dan juga manusia untuk mengatasi berbagai masalah kesehatan. Untuk tanaman padi agar tahan terhadap hama wereng atau tungro maka gen tanaman padi diedit, sel-sel yang merangsang tungro dihilangkan, sehingga padi terbebas dari penyakit tersebut. Pada manusia juga bisa diterapkan untuk mengatasi tumor  Dr. Inez selaku peneliti di IRRI Filipina, lembaga penelitian terkait penggembangan benih padi menegaskan dengan teknologi genom editing ini pihaknya telah mengahsilkan beras warna kuning yang mengandung vitamin A. Beras ini direkomendasikan untuk dikonsomsi bagi anak-anak yang tidak sukan makan sayur mayur.

    Ketua Panitia ICBB ke-8 Dr. Ir. IDP Oka Suardi, MSi menjelaskan konferensi internasional 103 peserta, 68 peserta menyampaikan makalah secara oral dan 31 peserta mempresentasikan hasil penelitian melalui poster. Adapun tujuan konferensi ini, Kata Ketua Prodi Agribisnis FP Unud ini, sebagai ajang tukar menukar informasi hasil penelitian bidang bioscience dan ciotechnology. Tujuan lain, mencermati sejauh mana bidang biotechnology memberikan sumbangan terhadap keberlanjutan pembangunan dan kehidupan umat manusia.*