KARIMUN – Sanggar Seni Pusaka Melayu berhasil meraih juara III kategori dewasa, dalam mengikuti lomba kompang tingkat internasional, yang digelar di Banda Hilir Melaka – Malaysia.

Tidak hanya meraih juara tiga, Sanggar Seni Pusaka Melayu juga berhasil menjadi peserta terbaik untuk kategori paluan (tabuhan-red).

Meski meraih dua kategori terbaik sekaligus tingkat internasional, Sanggar Seni Pusaka Melayu tidak mendapatkan perhatian serius dari pemerintah daerah dalam hal bantuan akomidasi atau dalam bentuk apapun, untuk memudahkan seluruh anggota dalam mengikuti lomba.

Salah seorang anggota dari Sanggar Seni Pusaka Melayu mengaku sangat bangga berhasil meraih juara III, sekaligus mengaku kecewa atas respon pemerintah daerah yang tidak memperhatikan mereka.

“Total semua kami yang berangkat ikut lomba kompang ke Malaysia ada 15 orang. Kami sudah ajukan bantuan rencana mengikuti lomba kompang ini ke Disdikbud Kabupaten Karimun, ke Bupati Karimun Iskandarsyah juga sudah dan telah kami sampaikan sebulan atau lebih sebelum event,” ucap pria yang enggan disebutkan nama ini.

Mereka mendapatkan jadwal tampil pada 9 Oktober 2026 kemarin, dan berhasil masuk final, sehingga pertandingan final dijadwalkan pada 11 Oktober 2026 dan berhasil mengantarkan Sanggar Seni Pusaka Melayu meraih dua kategori juara sekaligus ditingkat internasional.

Keikutsertaan Sanggar Seni Pusaka Melayu dalam lomba kompang internasional di Malaysia, membawa nama perwakilan dari negara Indonesia dan nama daerah Kabupaten Karimun. Sehingga juara yang berhasil diraih, berhak mendapatkan hadiah berupa dua sertifikat dan uang tunai dari penyelenggara.

“Kami merasa sangat bangga berhasil meraih dua kategori terbaik ini, juga merasa sangat kecewa kepada pemerintah daerah. Kita sudah menyampaikan bahwasanya ada undangan dari negara jiran Malaysia, untuk mengikuti pertandingan antar negara, total biaya yang diperlukan sekitar Rp46 Juta,” jelasnya.

Namun pengajuan yang disampaikan tidak mendapatkan respon dari semua pihak yang telah diajukan, sehingga Sanggar Seni Pusaka Melayu berinisiatif melakukan patungan dan mendapatkan sumbangan sukarela dari keluarga mereka masing-masing anggota, sehingga terkumpul Rp43 Juta.

“Memang kami dapat bantuan pada akhirnya atas nama pribadi dari Bupati Karimun Rp1,5 Juta dan dari Wakil Bupati Karimun Rp1,5 Juta. Itu sudah include dari 43 Juta total dana yang kami dapat, jumlah ini sebetulnya masih sangat kurang dari hitung-hitungan kami sebelumnya,” tambah anggota Sanggar Seni Pusaka Melayu ini lagi.

Namun menurutnya, kembali dengan niat dan semangat para anggota sanggar yang percaya diri untuk tampil dalam lomba kompang tersebut, sehingga inisiatif untuk mencarikan solusi agar tetap berangkat berhasil diwujudkan, meski tanpa campur tangan pemerintah daerah.

Dia berharap agar Pemerintah Kabupaten Karimun tidak hanya memperhatikan satu bidang kebudayaan, karena kebudayaan Melayu sangat banyak.

“Pemerintah daerah jangan hanya fokus ke pertandingan atau kebudayaan yang selalu dibuat pada suatu event dan itu-itu saja. Karimun ini bukan hanya satu budaya tapi ada banyak. kenapa budaya-budaya yang lain ditinggalkan atau tidak dilibatkan, dan sekarang sudah mulai tenggelam,” ucapnya mengakhiri.(*)

Previous articleDisdikbud Karimun Perintahkan Siswa TK SD dan SMP BDR, Kualitas Udara Tidak Sehat