
NATUNA, Kundurnews.co.id – Tim peneliti dari Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) masih mendalami efektivitas program Tol Laut di Natuna, khususnya terkait dampaknya terhadap harga barang di wilayah ujung utara perbatasan Indonesia (Natuna).
Penelitian lapangan yang berlangsung sejak 18 hingga 23 Mei 2026 itu melibatkan tiga peneliti, yakni Grace Aloina, Jhony dan Pihri.
Tim peneliti menemukan bahwa bahan pokok di Natuna saat ini lebih banyak didatangkan dari Tanjungpinang menggunakan kapal kargo reguler dibanding melalui jalur Jakarta yang menggunakan program Tol Laut.
Kondisi itu diduga menjadi salah satu alasan mengapa harga barang di Natuna dinilai belum menunjukkan perbedaan signifikan meski pemerintah terus menjalankan program subsidi transportasi laut.
Berdasarkan data yang diperoleh, pemerintah telah menggelontorkan anggaran lebih dari Rp15 miliar untuk subsidi program Tol Laut selama 2024 hingga 2025. Pada 2026, program subsidi tersebut kembali dianggarkan untuk mendukung distribusi logistik ke Natuna.
Peneliti BRIN, Jony, menyebut sejumlah pengusaha mengaku biaya belanja barang dari Tanjungpinang dinilai lebih murah dibanding mengambil barang dari Jakarta.
“Katanya belanja di Tanjungpinang lebih murah dibanding Jakarta. Ini yang masih mau kami cek lagi ke Tanjungpinang, benar atau tidaknya,” ujarnya, Sabtu 23 Mei 2026.
Menurutnya, kondisi tersebut membuat sebagian besar bahan pokok lebih banyak diangkut menggunakan kapal kargo reguler dibanding kapal Tol Laut.
Selain faktor jalur distribusi, sistem pengiriman menggunakan kontainer pada jalur tol laut, juga dinilai lebih mudah dimanfaatkan distributor besar dibanding pelaku usaha kecil.
Pasalnya, biaya sewa kontainer tetap sama meskipun muatan barang tidak penuh sehingga pelaku usaha kecil cukup kesulitan memanfaatkan skema tersebut.
Meski demikian, tim peneliti menilai program Tol Laut tetap memiliki peran penting dalam menjaga pasokan barang, terutama saat musim utara ketika gelombang tinggi yang menghambat pelayaran kapal kecil menuju Natuna.
“Secara umum belum bisa kami simpulkan karena masih temuan sementara,” ujar peneliti BRIN lainya, Grace Aloina.
Lanjutnya, penelitian tersebut masih akan dilanjutkan ke Tanjungpinang guna melakukan triangulasi dan penguatan data sebelum disusun menjadi laporan akhir.
Sementara itu, dalam proses penelitian, tim BRIN juga menyoroti masih tingginya biaya distribusi lanjutan dari pelabuhan menuju lokasi usaha maupun pasar di Natuna.
Karena itu, muncul usulan agar ke depan terdapat dukungan subsidi angkutan darat guna membantu menekan biaya distribusi barang di daerah perbatasan tersebut. (Mon)




























































