dijebak-jadi-budak-seks-belian-di-negeri-jiran-tki-terjerat-jadi-psk-4

Jumlah tenaga kerja Indonesia (TKI) di Malaysia terbanyak dibanding negara-negara lain. Data BNP2TKI dari awal tahun hingga 31 Oktober mencatat 95.785 WNI berangkat ke negeri jiran mengadu nasib. Itu artinya 29,4 persen dari keseluruhan buruh migran yang diberangkatkan sepanjang 2014.

Lepas dari kasus penyiksaan TKI yang sudah jamak muncul, sisi kelam buruh migran di Malaysia adalah perdagangan manusia untuk industri prostitusi. Kemlu memastikan semua yang jadi korban tak pernah berangkat dari PJTKI resmi.

Kasus paling anyar terjadi April lalu. KBRI Kuala Lumpur memulangkan 9 WNI korban dari tindak pidana perdagangan orang (TPPO) yang dipekerjakan sebagai pekerja seks komersial (PSK) di Malaysia.

Delapan dari sembilan korban itu diberangkatkan ke Malaysia oleh agen perseorangan berkewarganegaraan Indonesia, dan dipekerjakan sebagai PSK. Tujuh di antaranya merupakan korban di bawah umur.

Nasib mereka selama di negeri jiran benar-benar bagai budak belian. Tidak memperoleh bayaran, makanan sangat memprihatinkan, dan disekap kecuali saat bekerja sebagai PSK.

“Para korban tersebut dijanjikan bekerja di rumah makan atau salon dengan gaji besar di Malaysia, namun ternyata dipekerjakan sebagai PSK. Mereka dikirim ke Malaysia dengan menggunakan paspor yang identitasnya tidak asli terutama usianya,” kata Duta Besar Indonesia untuk Malaysia Herman Prayitno.

Data KBRI Kuala Lumpur, tiap tahun jumlah kasus TPPO yang mereka tangani meningkat dari dua kasus pada 2012 menjadi tujuh kasus pada 2013 dan tiga kasus selama kuartal pertama 2014.

Salah satu lokasi paling banyak menampung korban perdagangan manusia asal Indonesia adalah Negara Bagian Penang. Tak cuma dipasok untuk kebutuhan pria hidung belang Malaysia, para TKI nahas ini sebagian dikirim ke Thailand dan negara lainnya.

Polri kini terus memburu salah satu pemain besar yang sering melakukan perdagangan manusia itu. Namanya Farida Zaharina, alias Ina. Tersangka adalah sosok yang aktif keliling kampung-kampung di Tanah Air, menawari banyak perempuan menjadi pembantu di negeri jiran.

“Para korban dijanjikan sebagai pembantu rumah malah jadi penari striptis. Di sana jadi pendamping di pub-pub di Malaysia,” kata Kanit Trafficking Bareskrim Polri AKBP Arie Darmanto.

Sejak pertengahan tahun ini, nama Ina sudah masuk daftar pencarian orang. Termasuk disebar ke database Interpol dan FBI.

Daerah yang warganya sering jadi korban perdagangan manusia minta polisi bergerak cepat. Contohnya, Manajer Program Lembaga Bantuan Hukum Anak (LBH) Anak, Banda Aceh, Rudi Bastian.

Dia menyatakan, kemiskinan di Serambi Mekkah telah diketahui para anggota sindikat prostitusi lintas negara. Sehingga banyak perempuan yang harus menanggung nafkah keluarga mudah terpikat janji manis bekerja di mancanegara. Khususnya ke Malaysia.

Adapun angka trafficking di Aceh pada tahun 2012 hanya 7 kasus, meningkat pada tahun 2013 menjadi 13 kasus dan terus meningkat medio Januari-Oktober 2014 sebanyak 22 kasus. “Kita semakin prihatin dengan kondisi trafficking di Aceh karena terus meningkat 100 persen,” jelasnya.(Merdeka.com)http://www.merdeka.com/dunia/dijebak-jadi-budak-seks-belian-di-negeri-jiran-tki-terjerat-jadi-psk-4.html