pdam-butuh-rp-300-m-ubah-air-laut-siap-minum

 

 

+

+

 
Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) Tirta Khatulistiwa Pontianak membutuhkan investasi sebesar Rp 300 miliar untuk mengubah air asin menjadi tawar. Di musim kemarau sekarang ini, warga Pontianak mendapat masalah karena Sungai Kapuas sebagai sumber air bersih terintrusi air laut.

“Untuk mengubah air asin menjadi air tawar dan layak digunakan, membutuhkan investasi yang sangat besar, untuk membeli peralatannya saja membutuhkan dana sekitar Rp 300 miliar,” kata Wali Kota Pontianak Sutarmidji di Pontianak, dilansir dari Antara, Selasa (29/9).

Sutarmidji menjelaskan, dengan alat itu, air yang bisa diolah sebanyak 1.300 liter per detik. “Bisa saja Pemkot berinvestasi membeli peralatan itu dengan tiga tahun anggaran. Namun yang menjadi permasalahan, biaya operasional untuk memproduksi air asin menjadi air tawar cukup mahal yakni sekitar Rp 15.000 hingga Rp 18.000 per meter kubik,” ungkapnya.

Permasalahan lainnya, saat ini harga air PDAM berkisar Rp 3.500 hingga Rp 4.000 per meter kubik. Jika dipaksakan menggunakan peralatan tersebut, tentunya akan ada kenaikan harga atau tarif pemakaian air PDAM sebanyak tiga hingga empat kali lipat dari yang berlaku saat ini.

“Pertanyaannya, apakah masyarakat kita mampu untuk berlangganan air PDAM sebesar itu. Kalau misalnya hotel, usaha-usaha besar atau rumah-rumah mewah mungkin hal itu tidak menjadi persoalan, tetapi masyarakat kecil tentunya keberatan jika tarif PDAM naik hingga sebesar Rp18 ribu per meter kubik,” ujarnya.

Saat ini, menurut dia, pemerintah pusat sedang gencar membangun sekitar 48 waduk yang tersebar di beberapa daerah. Dia berharap dari jumlah itu, melalui perjuangan Gubernur Kalbar, Cornelis, bisa mendapat jatah satu waduk sebagai air baku PDAM Pontianak.

Dalam sebulan terakhir, air bersih yang didistribusikan oleh PDAM Tirta Khatulistiwa Pontianak ke pelanggannya terasa asin, karena bahan bakunya dari Sungai Kapuas dan Sungai Penepat sudah terintrusi air laut, karena dorongan air dari hulu kedua sungai itu kecil, dampak dari musim kemarau.

+
Sumber : Merdeka.com