hari-ini-kota-rengat-akan-diserang-kapal-perang-belanda

 

Satu unit kapal motor mirip kapal perang dengan memakai bendera Belanda terlihat sudah bersandar di kawasan Batu Miring, bawah jembatan Trio Amanah kota Rengat kabupaten Indragiri Hulu (Inhu), Riau, sejak Sabtu (3/1) hingga Minggu (4/1).

Kapal yang dilengkapi dengan fasilitas senjata perang itu akan menurunkan puluhan tentara Belanda dan menyerang warga kota Rengat yang memiliki julukan ‘Kota Bersejarah’ itu, hari ini Senin, (5/1).

“Ada 26 orang yang memerankan sebagai tentara Belanda turun dari kapal tersebut, dan langsung melakukan penyerangan terhadap pemeran sebagai warga di kota Rengat,” ujar salah seorang panitia peringatan hari bersejarah 5 Januari, Kapten Arh Mirzam.

Dia mengaku bahwa kapal tersebut sengaja dibuat untuk menceritakan kisah 5 Januari 1949 dalam drama kolosal yang diperankan oleh anggota teater Dewan Kesenian Indragiri bekerjasama dengan Komando Distrik Militer (Kodim) 0302 Inhu, pada peringatan hari bersejarah kota Rengat, Senin (5/1).

Untuk diketahui, pada 5 Januari, warga Kota Rengat, umumnya masyarakat Kabupaten Inhu akan memperingati tragedi berdarah 5 Januari 1949. Pada peristiwa tersebut, Sungai Indragiri memerah, menjadi saksi bisu keganasan tentara Belanda membunuh ribuan nyawa tak berdosa saat melancarkan Agresi Militer ke II di tanah Indragiri.

Mantan Komandan Markas Bataliyon III, Resimen IV, Banteng Sumatera berpangkat Letnan Muda TNI AD, bernama HM Wasmad Rads dalam bukunya “Lagu Sunyi Dari Indragiri” menuturkan secara jelas tentang peristiwa 5 Januari 1949. Meski sudah tiada, namun buku biografi Wasmad Rads tersebut mampu memberikan gambaran tentang peristiwa berdarah tersebut.

“Hari itu seperti mimpi buruk. Ribuan orang tewas. Sungai Indragiri berwarna merah karena darah. Tentara dan warga ditembak paratroops (tentara Belanda) dibuang ke sungai,” ujar HM Wasmad Rads dalam buku tersebut.

Bahkan, warga kota Rengat memandang sungai Indragiri seolah aliran sungai yang tak layak untuk digunakan karena mengandung darah manusia. “Lama warga tak mau makan ikan dari sungai karena sebelumnya ada ikan yang ketika dibelah dalam perutnya ditemukan jari mayat,” jelas Wasmad lagi.

Sebagai Komandan Markas Bataliyon III, Resimen IV, Bateng Sumatera yang berkedudukan di Kota Rengat, Wasmad tahu betul bagaimana peristiwa bersejarah itu terjadi. Hari itu, tanggal 5 Januari 1949, sekitar pukul 06.00 Wib, dua pesawat Belanda jenis Mustang dengan cocor merah di depannya terbang rendah di langit Kota Rengat yang baru diguyur hujan malam harinya.

Dua pesawat itu melayang-layang di antara kerumunan masyarakat yang akan memulai aktivitas. Sebelumnya sudah tersiar kabar bahwa tentara Belanda akan menyerang Kota Rengat sebagai upaya merebut kembali kekuasannya.

Kecemasan warga segera terjawab. Kedatangan dua pesawat Belanda itu bukan hendak mengantarkan berita baik, melainkan membawa bom yang ditembakkan begitu saja di pasar, jalan raya, rumah warga hingga markas tentara Indonesia. Seketika bunyi bom yang meledak di tanah bersatu dengan pekik histeris warga yang panik.

Dalam hitungan detik, tubuh-tubuh manusia bergelimpangan, sementara darah bercecer di mana-mana. Sejumlah tentara berupaya melumpuhkan dua pesawat dengan menembakkan mortir. Namun upaya itu tidak terlalu membuahkan hasil. Justru markas tentara Indonesia yang di bombardir oleh Belanda.

Aksi dua pesawat Mustang yang mengebom setiap penjuru Rengat baru berakhir pukul 09.45 Wib. Begitu Pesawat Mustang menghilang dari langit Rengat, muncul kembali tujuh pesawat Dakota yang menerjunkan ratusan pasukan baret merah Belanda atau sering disebut Korp Spesialie Tropen (KST), pasukan terlatih Belanda yang telah mengikuti pelatihan di Batu Jajar, Bandung.

Konon pasukan ini dilatih langsung oleh Kapten Westerling yang terkenal keji. Pasukan ini diterjunkan di daerah Sekip yang berawa-rawa dan selama ini tidak begitu terjaga oleh tentara republik.

“Perhatian kita benar-benar terpecah. Antara menghadang laju pasukan penerjun dengan korban yang bergelimpangan. Seorang ibu memeluk tubuh anaknya yang tercabik-cabik,” terang Wasmad.

“Ada juga wanita yang berteriak histeris didepan putrinya yang terluka parah. Entah siapa yang mau ditolong terlebih dahulu. Masuk ke lubang perlindungan disana sudah ada mayat-mayat dan korban yang terluka parah. Terlintas dalam pikiran saya jika serangan itu terus dilanjutkan, maka menjelang petang mungkin seluruh penduduk Rengat sudah musnah,” ujar Wasmad dalam bukunya tersebut.

Warga Rengat yang sudah panik dan kacau balau karena serangan udara, tiba-tiba sudah berhadapan dengan pasukan terlatih dan bersenjata lengkap. Serangan pasukan Belanda tersebut teramat cepat.

Akibatnya banyak warga dan tentara yang tewas, sehingga dalam waktu yang tidak begitu lama pasukan Belanda sudah berhasil mendekat ke Batalyon dan menguasai Rengat.

“Belanda menembak apapun yang bergerak. Sisa-sisa prajurit dan warga yang bersembunyi dalam gorong-grong diberondong. Korban jatuh dari berbagai kalangan termasuk Bupati Tulus, Wedana Abdul Wahab, Kepala Polisi Korengkeng. Ada yang memperkirakan korban yang tewas mencapai dua hingga tiga ribu orang hari itu,” kata dia.

Tidak cukup sampai di situ, Belanda juga menangkap pegawai pemerintahan dan sisa-sisa laskar. Mereka kemudian dibariskan menuju lapangan, disuruh baris berjajar dan ditembak tanpa proses interogasi.

Belanda juga membentak warga yang masih hidup dan meminta mereka mengumpulkan seluruh mayat untuk ditumpuk begitu saja di tepian Sungai Indragiri. Jasad para korban yang jumlahnya ribuan itu lantas dilemparkan ke sungai yang tengah mengalir deras.

Dalam situasi serba tak menentu, Wasmad bersama Letnan Satu Himron Suherman dan Letnan Muda Thamsur Poad begerak ke pinggir hutan sambil berupaya mencari sisa-sisa tentara. Namun yang selamat ternyata hanya mereka bertiga.

Ketiganya kemudian sepakat berpencar karena kondisinya tidak memungkinkan lagi untuk menghimpun kekuatan dalam waktu singkat. Namun Wasmad tetap nekat untuk bertahan di dalam kota mencari informasi pasukan yang masih tersisa guna menghadapi Belanda.

Menjelang petang, situasi di Kota Rengat terus memburuk. Belanda kembali menurunkan pasukan Baret Hijau dalam jumlah besar. Mereka diperkirakan tiga kompi atau sekitar 350 orang. Pasukan ini datang dari Tembilahan melalui jalur sungai.

Bagi Anda yang ingin mengetahui kisah lengkap sejarah ini dapat menyaksikan langsung adegan – adegan yang diperankan oleh anggota teater Dewan Kesenian Indragiri dan prajurit TNI Kodim 0302 Inhu dalam teater kolosal yang akan digelar, Senin (5/1) di jalan A Yani Rengat atau tepatnya depan rumah Dinas Bupati Inhu, Yopi Arianto, putra mantan ketua DPRD Inhu, Almarhum Sugianto.

(merdeka.com)http://www.merdeka.com/peristiwa/hari-ini-kota-rengat-akan-diserang-kapal-perang-belanda.html